Vitality Stadium bergemuruh saat Evanilson memanfaatkan hadiah dari Gabriel Magalhaes. Hanya sepuluh menit berjalan, Arsenal sudah tertinggal. Gol awal Bournemouth itu seperti mimpi buruk yang berulang bagi The Gunners, yang sedang berjuang keras di puncak klasemen.
Namun, respons mereka cepat. Enam menit berselang, Gabriel sendiri yang menebus kesalahannya. Dia muncul di tiang jauh, menyambar bola liar hasil blokiran, dan melepas tendangan keras ke atap gawang. 1-1. Laga yang sempat miring, kembali setara.
Turun minum rupanya jadi momentum ajaib bagi Mikel Arteta dan anak asuhnya. Mereka kembali ke lapangan dengan wajah berbeda lebih agresif, lebih terarah. Dan Declan Rice menjadi bintangnya. Gelandang andalan itu mencetak dua gol di babak kedua, menit 54 dan 71, yang pada akhirnya menjadi penentu kemenangan. Bournemouth sempat bangkit lewat gol Eli Junior Kroupi, tapi Arsenal bertahan hingga peluit panjang berbunyi. 3-2 untuk kemenangan dramatis.
Hasil ini bukan cuma sekadar tiga poin. Arsenal kini kokoh di puncak dengan keunggulan enam angka, dan ini adalah kemenangan kelima beruntun mereka di Premier League. Konsistensi itu yang sedang mereka jaga mati-matian.
Pertanyaan besarnya: kenapa Arsenal selalu lebih garang di babak kedua? Arteta punya penjelasannya.
“Kami coba pelajari ulang situasi. Apa yang salah, apa yang bisa diperbaiki, di mana celahnya. Pemain harus paham dan langsung eksekusi. Itu kuncinya,” ujar manajer asal Spanyol itu.
Bagi Arteta, jeda itu bukan cuma untuk minum dan istirahat. Itu momen krusial untuk bernapas, merenung sejenak, dan mengambil keputusan tepat.
“Kamu kumpulkan informasi, ada waktu untuk evaluasi, lalu sampaikan pesan yang relevan. Pesan yang bisa bantu kami menang. Itu sangat penting,” tegasnya.
Dia juga tak pelit pujian, terutama untuk Gabriel yang bangkit dari kesalahan fatal.
“Cara dia bereaksi setelah blunder, cara dia main setelahnya, dan energi yang dia tularkan… luar biasa. Itu yang kami butuhkan,” kata Arteta.
Rice juga dapat pujian serupa. Dua golnya bukan kebetulan.
“Dia punya insting berada di posisi tepat dan kemampuan menyelesaikan dengan dingin. Caranya mirip di kedua gol itu. Performanya mengirim pesan besar untuk semua: kita harus terus bertarung,” ujar Arteta.
Dengan sembilan laga tersisa, jalan menuju gelar masih panjang. Tapi kemenangan seperti ini yang didapat lewat mental baja dan penyelesaian masalah saat jeda memperlihatkan karakter juara. Arteta tahu betul tuntutannya.
“Setiap laga butuh energi, gairah, dan fokus total. Masih ada sembilan pertandingan besar. Tapi lihat komitmen para pemain, kita harus bisa,” tutupnya penuh keyakinan.
Artikel Terkait
Pelatih Persita Tegaskan Fokus Raih Poin, Abaikan Dampak Laga untuk Persija
Maarten Paes Cetak Debut Impresif, Selamatkan Ajax dari Kekalahan
Zarco Yakin Marquez Tetap Tak Terkalahkan di MotoGP 2026
Persijap Jepara Kalahkan Persebaya, Dua Laga Lain Imbang di Pekan ke-22 Super League