Prabowo Subianto Tegaskan Bahaya Ekonomi Serakah di Forum APEC
Istilah 'serakahnomics' atau ekonomi serakah kembali diangkat oleh Presiden RI Prabowo Subianto dalam pidatonya pada Pertemuan Para Pemimpin Ekonomi APEC (APEC Economic Leaders' Meeting) di Gyeongju, Korea Selatan. Prabowo menegaskan bahwa keserakahan dalam ekonomi menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi global.
Ancaman Ekonomi dan Moral Global
Dalam forum yang menghadirkan para kepala negara dari 21 ekonomi anggota APEC tersebut, Prabowo menyoroti ancaman multidimensi yang dihadapi dunia. Ia menekankan bahwa masalah yang dihadapi tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga moral dan sosial.
"Kami di Indonesia sedang berjuang melawan korupsi, melawan penipuan, dan melawan greed economies, ekonomi serakah, yang menahan pertumbuhan sejati," tegas Prabowo dalam pidatonya.
Pentingnya Inklusivitas dan Keberlanjutan
Presiden Prabowo menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap meningkatnya ketegangan global dan menurunnya rasa saling percaya antarnegara. Menurutnya, kondisi ini dapat membahayakan stabilitas ekonomi dunia.
Prabowo menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tidak inklusif hanya akan menciptakan ketimpangan dan potensi konflik. "Pertumbuhan yang menyingkirkan adalah pertumbuhan yang memecah belah. Perpecahan menciptakan ketidakstabilan, dan ketidakstabilan tidak akan kondusif bagi perdamaian dan kemakmuran," ujarnya.
Seruan Kerja Sama Multilateral
Dalam pidatonya, Prabowo juga menyerukan pentingnya solidaritas global untuk mengatasi tantangan lintas batas negara. Ia menyoroti bahaya narkotika sebagai ancaman serius terhadap stabilitas dan masa depan bangsa.
"Kita menghadapi tantangan besar, korupsi, penyelundupan, penipuan, dan kita membutuhkan kerja sama di antara komunitas APEC karena penyelundupan antarnegara tidak akan menguntungkan ekonomi kita," tegas Prabowo.
Presiden menekankan bahwa kerja sama multilateral sangat penting untuk memerangi kejahatan lintas negara seperti penyelundupan, pencucian uang, perdagangan manusia, dan narkoba yang merusak fondasi ekonomi dunia.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi