Keluarga Sutrimo mengungkap komunikasi terakhir almarhum sebelum ditemukan meninggal dunia. Sutrimo disebut masih aktif mengirim pesan dan foto kepada keluarganya hingga dini hari, termasuk foto makanan dan aktivitasnya sehari-hari.
Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, menyebutkan sebelumnya Sutrimo memang sempat mengeluhkan kondisi kakinya yang bengkak. Namun keluhan itu disampaikan sebelum dia kembali ke Jakarta.
"Kalau sebelum berangkat ya ngeluh, bengkak kakinya. Tapi memang karena gulanya sudah lama. Bengkak kakinya itu diblonyoh sama ibunya dan lain-lain," kata Aan saat dihubungi wartawan lewat telepon, Senin (10/8/2026).
Berdasarkan riwayat percakapan WhatsApp yang masih dapat dibuka, tidak terlihat adanya keluhan sakit dari Sutrimo pada 19-23 Juli 2026. Justru, menurut Aan, komunikasi Sutrimo dengan keluarga terlihat normal.
"Pak Sutrimo ini orangnya penyayang. Selain menjaga ibunya, dia komunikasi baik dengan adiknya. Nanyain keponakannya setiap hari, minta video dan lain-lain," ucapnya.
Aan mengungkap komunikasi terakhir Sutrimo yang dinilai penting dalam melihat kondisi almarhum sebelum ditemukan meninggal. Menurut dia, pada 23 Juli, Sutrimo masih sempat mengirim foto makanan sekitar pukul 03.18 WIB.
Foto tersebut memperlihatkan makanan berupa ayam goreng lengkap dengan lalapan. Aan mengatakan makanan tersebut seperti menu ayam goreng Lamongan.
"Makanannya ayam goreng, ayam goreng Lamongan, piringnya hijau. Jadi ayam goreng, lalapan, kayak Lamongan gitu," jelasnya.
Tak berhenti di situ. Sekitar pukul 04.00 WIB, Sutrimo kembali mengirim foto. Kali ini, dia terlihat sedang duduk di seberang rumah utama milik eks Jampidsus Febrie Adriansyah.
"Jam 04.00 dia juga ngirim foto dia lagi duduk di seberang rumah utamanya Pak Febrie," ujar Aan.
Artikel Terkait
Keluarga Sutrimo Mulai Curiga, Ponsel dan Dompet Tak Kunjung Kembali
Nomor Ponsel Pengantar Jenazah Sutrimo Mati, Keluarga Mulai Curiga
Kuasa Hukum Febrie Bantah Sutrimo Kepala Rumah Tangga, Publik Diminta Tak Berprasangka
Polisi Naikkan Status Kasus Kematian Sutrimo ke Penyidikan, 24 Saksi Diperiksa