Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah kelompok pemberontak Houthi mengumumkan rencana untuk meniru langkah Iran dalam memonopoli jalur perdagangan strategis. Langkah ini berpotensi menutup dua selat utama yang menjadi pintu gerbang menuju perairan Teluk dan Laut Merah.
Iran sebelumnya telah menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal internasional dalam konfliknya dengan Amerika Serikat dan Israel. Kini, Houthi yang bermarkas di Yaman berencana menerapkan strategi serupa di Laut Merah, setelah sebelumnya mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi. Kelompok itu dinilai tengah berupaya menguasai arus pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, yang merupakan gerbang menuju Laut Merah.
"Kelompok Houthi ingin meniru model Iran, dan langkah ini akan menutup dua selat utama yang menjadi pintu gerbang menuju perairan Teluk dan Laut Merah," ujar calon Menteri Luar Negeri untuk pemerintah Yaman yang diakui secara internasional, Afrah al-Zouba, kepada wartawan, Selasa (28/7/2026).
Al-Zouba menyebut aksi kelompok pemberontak yang didukung Iran itu "selaras" dengan eskalasi yang dikobarkan Iran di kawasan Timur Tengah. Saat berbicara di Kedutaan Besar Yaman di Riyadh, Arab Saudi, pada Senin (27/7) waktu setempat, ia menambahkan bahwa Houthi semakin berani bertindak karena kurangnya respons internasional yang layak terhadap aktivitas kelompok tersebut.
Artikel Terkait
Houthi Klaim Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi, Citra Satelit Tangkap Kepulan Asap
Trump Ancam Serang Iran dan Yaman, Iran Kirim Komandan IRGC ke Houthi
Harga Minyak Kembali Tembus USD 100 Akibat Serangan Houthi di Laut Merah
Harga Minyak Tembus USD100 per Barel Usai Houthi Serang Kapal Tanker Saudi