Bandung Raya Bersiap Punya BRT Modern, Groundbreaking Proyek Mastran Resmi Dimulai

- Senin, 27 Juli 2026 | 20:55 WIB
Bandung Raya Bersiap Punya BRT Modern, Groundbreaking Proyek Mastran Resmi Dimulai

Bandung Raya memasuki era baru transportasi publik. Prosesi groundbreaking pembangunan infrastruktur Indonesia Mass Transit Project (Mastran) sekaligus penandatanganan kerja sama penyediaan Public Service Obligation (PSO) layanan angkutan massal di kawasan Cekungan Bandung menjadi penanda dimulainya sistem Bus Rapid Transit (BRT) yang ditargetkan beroperasi penuh pada 2027.

Sistem ini akan didukung jaringan modern berupa jalur khusus, ratusan halte, depo, dan Intelligent Transportation System. Acara peresmian berlangsung di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Rabu (22/7), dihadiri Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, Dirjen Perhubungan Darat Aan Suhanan, serta para bupati dan wali kota se-Bandung Raya.

Gubernur yang akrab disapa KDM menegaskan, masyarakat membutuhkan transportasi umum yang terintegrasi dan berkeadilan. "Ini kegembiraan bagi masyarakat Bandung Raya. Kita berharap pembangunan berjalan aman, lancar, tanpa gangguan, dan menghadirkan infrastruktur bermutu tinggi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (27/7/26).

Menurut KDM, transportasi publik kini menjadi kebutuhan dasar warga metropolitan. "Kita memasuki era baru. Transportasi modern bukan sekadar kecepatan, tetapi pelayanan prima, terdigitalisasi, dan terkoneksi," tambahnya.

Ia mendorong perubahan perilaku pengguna transportasi publik agar lebih tertib, seperti menjaga fasilitas, membuang sampah pada tempatnya, dan beretika di ruang publik. Pemerintah juga harus menyediakan fasilitas kebersihan, trotoar layak, penerangan jalan, dan pengamanan ekstra. "Semakin tinggi trafik transportasi publik, kalau tidak diimbangi pengamanan kuat, berpotensi meningkatkan kejahatan," sambungnya.

KDM mengingatkan peningkatan sistem transportasi harus berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan pemerataan pembangunan. "Jawa Barat harus adil. Kota besar berkembang, desa juga harus merasakan pembangunan. Infrastruktur dasar wajib menjangkau seluruh lapisan," tegasnya.

Solusi Kemacetan

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menjelaskan, Kawasan Cekungan Bandung memiliki mobilitas dan aktivitas ekonomi tinggi, namun kerap diiringi kemacetan yang merugikan produktivitas, biaya logistik, dan kualitas lingkungan. Pemerintah menghadirkan Mastran sebagai solusi jangka panjang. "Groundbreaking hari ini menjadi tonggak sejarah mewujudkan transportasi publik modern. Kita ingin angkutan umum yang nyaman, aman, tepat waktu, terjangkau, dan terintegrasi menjadi opsi utama mobilitas," ujarnya.

BRT akan menjadi tulang punggung mobilitas yang terhubung dengan kereta api dan angkutan pengumpan. Penandatanganan PSO menjamin keberlangsungan operasional dengan tarif terjangkau.

Dirjen Perhubungan Darat Aan Suhanan mengatakan, program BRT Cekungan Bandung didukung pendanaan dari Pemerintah Indonesia, World Bank, dan AFD. Proyek Mastran nasional bernilai USD264 juta (sekitar Rp3,8 triliun). Khusus BRT Cekungan Bandung, investasi Rp1,3 triliun mencakup pembangunan 21 km jalur khusus, 6 depo utama, 719 halte off-corridor, 34 halte on-corridor, dan penerapan ITS.

Tahap pertama difokuskan pada halte off-corridor, Depo Cicaheum, Depo Leuwipanjang, dan jalur utama. Tahap berikutnya menyasar halte ikonik di Tegalega, Alun-alun Bandung, Stasiun Hall, Kiara Artha Park, serta depo tambahan di Cimenyan, Padalarang, Soreang, dan Majalaya. Sistem BRT ditargetkan memiliki waktu tunggu maksimal 7 menit pada jam sibuk dan 15 menit di luar jam sibuk. "Kami optimistis pekerjaan selesai sesuai target, sehingga masyarakat segera menikmati transportasi publik yang efisien, andal, dan berkelanjutan," pungkas Aan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags