Isyarat Said Didu soal Jaringan Solo-Bandung, Sinyal Dukungan untuk Gibran-KDM?

- Kamis, 13 Agustus 2026 | 12:20 WIB
Isyarat Said Didu soal Jaringan Solo-Bandung, Sinyal Dukungan untuk Gibran-KDM?

Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, melontarkan kicauan yang sarat kode di media sosial. Ia menyebut terbentuknya jaringan Solo-Bandung yang diatur dari Singapura dengan pasukan gajah. Pernyataan itu langsung memicu spekulasi politik, terutama terkait poros Gibran Rakabuming Raka dan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, pada Pilpres 2029.

Jaringan Solo-Bandung atau Solo-Jabar itu diperkirakan akan mengusung pasangan Gibran-KDM, atau bisa juga KDM-Gibran. Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM, dikenal sebagai politisi yang lincah berpindah partai. Ia pernah berlabuh di Golkar, lalu pindah ke Gerindra, dan kini santer dikabarkan akan merapat ke PSI. Apalagi, Mahkamah Konstitusi telah menghapus ambang batas pencalonan presiden (presidential threshold) sebesar 20 persen. Dengan begitu, semua partai politik peserta pemilu berhak mengajukan calon presiden dan wakil presiden pada 2029.

Isyarat Said Didu ini muncul di tengah rilis survei terbaru dari Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada Juli 2026. Hasilnya mengejutkan: Presiden Prabowo Subianto kalah telak dari Dedi Mulyadi dalam berbagai simulasi calon presiden. Dalam simulasi semi terbuka dengan 20 nama, Dedi Mulyadi unggul jauh dengan 35 persen, sementara Prabowo hanya 14,5 persen. Anies Baswedan dan Gibran Rakabuming Raka masing-masing memperoleh 8,2 persen dan 7,7 persen.

Bahkan dalam simulasi head-to-head yang mempertemukan dua tokoh secara langsung, jarak suara semakin melebar. Dedi Mulyadi meraih 59 persen, sedangkan Prabowo hanya 28,3 persen. Sebanyak 12,7 persen responden belum menentukan pilihan.

Kendati demikian, Said Didu tidak merinci lebih lanjut maksud dari kicauannya. Ia hanya menulis, "Terbentuk jaringan Solo – Bandung yg diatur dari Singapura pake pasukan gajah. Itu saja." Kalimat singkat itu pun menjadi bola liar yang ditafsirkan beragam oleh warganet dan pengamat politik.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags