Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa kemampuan membaca perubahan dan memimpin transformasi menjadi kunci lahirnya pemimpin yang mampu menjawab tantangan zaman. Menurutnya, perubahan global yang berlangsung sangat cepat menuntut setiap pemimpin tidak hanya beradaptasi, tetapi juga mampu mengantisipasi dan mengarahkan perubahan.
"Banyak pemimpin mencapai puncak karier bukan karena sekadar mengikuti perubahan, melainkan karena mampu memimpin perubahan. Kuncinya adalah mampu membaca tanda-tanda zaman dan melihat arah masa depan. Mereka yang mampu memimpin perubahan akan menjadi pemenang," ujar Bima saat menjadi pembicara dalam acara Advanced Leadership Programme (ALDP) 2026 bertajuk 'Strategic Leadership for Innovative Growth' di Bandung, Jawa Barat, Selasa (21/7/2026).
Bima menjelaskan percepatan perubahan global ditandai dengan bergesernya konstelasi geopolitik dunia, munculnya kekuatan-kekuatan baru, serta pesatnya perkembangan teknologi, khususnya Akal Imitasi. Kondisi tersebut, menurutnya, menuntut lahirnya pemimpin yang adaptif, berpandangan jauh ke depan, dan mampu bertindak tepat di tengah dinamika yang terus berubah.
Ia menambahkan, tantangan tersebut juga dihadapi Indonesia, terutama dalam memanfaatkan bonus demografi yang diperkirakan berakhir sekitar 2040. Pemerintah pusat dan daerah, kata dia, tengah memaksimalkan momentum tersebut melalui peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, dan sumber daya manusia agar Indonesia mampu keluar dari risiko negara berpendapatan menengah serta mewujudkan visi menjadi negara maju.
Perubahan yang semakin cepat, menurut Bima, harus direspons melalui budaya inovasi di lingkungan birokrasi. Inovasi tidak boleh sekadar menjadi rutinitas administratif atau mengejar penghargaan, melainkan harus menjawab kebutuhan masyarakat.
"Innovation should be based on the needs of the people. Inovasi tidak boleh lahir hanya dari ide pemerintah, tetapi harus berangkat dari kebutuhan masyarakat. Karena itu, pemimpin harus sering turun ke lapangan, mendengar aspirasi warga, sehingga solusi yang dihasilkan benar-benar menjawab persoalan publik," tegasnya.
Ia menjelaskan, inovasi yang berangkat dari kebutuhan masyarakat akan meningkatkan kualitas pelayanan publik sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah. Untuk itu, Aparatur Sipil Negara (ASN) dituntut membangun budaya belajar, meningkatkan kemampuan berkolaborasi, serta mampu menerjemahkan gagasan menjadi kebijakan dan program yang dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat.
Selain itu, Bima menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan kebijakan dan menyiapkan regenerasi kepemimpinan. Pemimpin yang baik, kata dia, tidak hanya mampu menghasilkan perubahan, tetapi juga memastikan program-program yang telah terbukti bermanfaat tetap dilanjutkan dan disempurnakan oleh penerusnya.
ALDP 2026 merupakan program kepemimpinan tingkat lanjut yang diikuti peserta dari perwakilan Departemen Perdana Menteri Malaysia, berbagai kementerian, serta pemerintah daerah. Turut hadir Director of Razak School of Government, National Institute of Public Administration (INTAN) Malaysia Encik Azham.
Artikel Terkait
Meila Nurpadilah Kembali ke Keluarga Setelah Sempat Hilang Sepekan
Burung Unta Berkeliaran di Jalan Buahbatu, Bandung, Sempat Bikin Panik Pengendara
Piala Presiden Elite 2026 Digelar 25 Juli, Persib vs Arema FC Jadi Laga Pembuka
Kemendagri Fokus pada Verifikasi dan Komunikasi Publik untuk Program Koperasi Desa Merah Putih