Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tewaskan 18 Orang di Prancis, Suhu Tembus Rekor 41,9 Derajat Celcius

- Rabu, 24 Juni 2026 | 15:25 WIB
Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tewaskan 18 Orang di Prancis, Suhu Tembus Rekor 41,9 Derajat Celcius

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa dalam beberapa hari terakhir telah merenggut sedikitnya 18 jiwa di Prancis. Suhu di sejumlah kota memecahkan rekor, memaksa sekolah-sekolah ditutup dan mengubah jadwal aktivitas warga sejak Senin lalu.

Di Bordeaux, wilayah penghasil anggur di barat Prancis, termometer menunjukkan angka 41,9 derajat Celcius melampaui rekor sebelumnya yang tercatat pada Agustus tahun lalu. Kota Poitiers di Prancis tengah juga mencatat suhu 41,2 derajat Celcius, mengalahkan rekor tertinggi yang bertahan sejak 1947. Sementara itu, San Sebastián di utara Spanyol, wilayah yang biasanya dikenal sejuk, diperkirakan akan mencapai 40 derajat Celcius. Peramal cuaca di Inggris pun memperkirakan suhu di negara itu bisa memecahkan rekor untuk bulan Juni pekan ini.

Dari Semenanjung Korea, pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menghadiri upacara peluncuran kapal perusak serbaguna baru bernama Choe Hyon di pelabuhan Nampho. Dalam sambutannya yang dilaporkan kantor berita KCNA, Kim mengatakan negaranya harus membangun dua kapal perang sebesar Choe Hyon yang berbobot 5.000 metrik ton setiap tahunnya selama lima tahun ke depan.

Kim juga mengumumkan rencana untuk segera mengerahkan kapal perusak 5.000 ton lainnya bernama Kang Kon, bersama dengan sebuah kapal perang strategis berbobot 10.000 ton. Kapal Kang Kon diketahui sempat diperbaiki tahun lalu setelah sebagian terbalik saat upacara peluncuran. Menurut Kim, angkatan laut yang dulu dianggap sebagai bagian terlemah dari militer Korea Utara kini akan memiliki kemampuan yang ia sebut sebagai "sesuatu yang luar biasa di luar imajinasi."

Di Timur Tengah, Perserikatan Bangsa-Bangsa melontarkan tuduhan serius terhadap Israel. Dalam laporan Komisi Penyelidikan Internasional Independen tentang Wilayah Palestina yang Diduduki, termasuk Yerusalem Timur dan Israel, PBB menuduh pasukan Israel dengan sengaja menargetkan dan membunuh anak-anak Palestina di Gaza termasuk dengan menembak langsung "organ vital mereka" menggunakan drone dan penembak jitu.

Laporan tersebut merinci dugaan kejahatan terhadap anak-anak Palestina sejak perang Gaza dimulai pada Oktober 2023. Temuan penyelidikan menyebutkan bahwa "pemerintah dan pasukan keamanan Israel dengan sengaja melakukan tindakan yang menyebabkan kematian dan kerusakan fisik dan mental yang parah pada ratusan ribu anak-anak Palestina." Laporan itu juga menuduh Israel melakukan genosida, kejahatan perang, dan kejahatan terhadap kemanusiaan termasuk penganiayaan berdasarkan usia. "Menghancurkan masa kanak-kanak secara permanen, termasuk ikatan keluarga, identitas, kepolosan, keselamatan, dan masa depan," demikian bunyi temuan tersebut.

Sementara itu, di Australia, pemimpin oposisi Angus Taylor menolak memberikan jawaban tegas ketika ditanya apakah Koalisi yang dipimpinnya masih mendukung multikulturalisme. Taylor beberapa kali didesak mengenai sikap partainya, terutama apakah akan mengikuti jejak Partai One Nation yang ingin mengakhiri multikulturalisme di Australia. Alih-alih menyatakan posisi, Taylor mengatakan budaya yang ingin ia lihat adalah budaya yang mendukung "nilai-nilai Australia." "Jelaskan kepada saya apa yang Anda maksud dengan itu. Ada banyak kata-kata samar yang beredar. Satu hal yang ingin kita semua bagikan adalah nilai-nilai inti Australia itu," ujar Taylor.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar