Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, kembali menegaskan makna filosofis di balik pekikan “Merdeka” yang kerap ia lontarkan dalam setiap pidato. Pernyataan itu disampaikan saat meresmikan renovasi Istana Gebang di Kota Blitar, Jawa Timur, pada Senin (15/6/2026). Dalam kesempatan tersebut, Megawati mengaku kerap menerima pertanyaan dari masyarakat yang mempertanyakan kebiasaannya meneriakkan kata tersebut.
“Banyak yang menanyakan pada saya, ‘Ibu itu ngapain sih, kurang kerjaan. Selalu teriak-teriak merdeka-merdeka’,” ujarnya menirukan pertanyaan yang kerap ia terima.
Menurut Megawati, kebiasaan itu bukan sekadar seremonial belaka. Ia menilai bahwa sepanjang sejarah Republik Indonesia, masih sedikit yang menjelaskan secara gamblang mengapa kata “merdeka” harus terus digaungkan. Pekikan tersebut, lanjutnya, tidak dapat dilepaskan dari perjuangan Bung Karno yang berhasil membebaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan.
“Kalian harus keluarkan kata-kata itu dari hati kalian. Ini tempatnya, tidak hanya untuk didatangi tapi diresapi. Bayangkan kalau Bung Karno tidak memiliki keberanian untuk mengatakan Proklamasi. Coba, siapa yang akan mengucapkannya?” tanyanya kepada hadirin.
Megawati kemudian mengutip ajaran sang ayah, Soekarno, yang menyebut bahwa pekikan “merdeka” merupakan ungkapan semangat para pejuang yang mendambakan kemerdekaan. Ungkapan itu, kata dia, lahir dari kebiasaan para pejuang ketika saling berpapasan di medan perjuangan. Mereka mengepalkan tangan dan saling meneriakkan kata itu sebagai bentuk penyemangat.
“Nah, bapak saya itu bilang, para pejuang itu karena bersemangat ingin merdeka. Jadi kalau mereka berpapasan dengan mengepalkan tangan, mereka bilang ‘Merdeka!’ Misalnya saya berhadapan sama Pak Hasto, pas dia jalan ke saya, saya ke sana, ketika sebelum ketemuan sudah bilang merdeka,” papar Megawati.
Ia pun menambahkan bahwa makna di balik pekikan itu sangat mendalam. “Saya harus bilang apa? Mati. Kalau sekarang mungkin apa, kok norak banget. Ya dulu kalau tidak merdeka, mereka bilang kita mati saja,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Polisi Imbau Pengendara Hindari Jalur Puncak Malam Ini karena Pawai Obor Tahun Baru Islam
Disdik Jabar Siap Hadapi Ombudsman Usai Dilaporkan soal Maladministrasi Penerimaan Murid Baru 2026
Rupiah Menguat Tajam ke Rp17.695 per Dolar AS, Sentuh Level Terkuat dalam Sepekan
Steinmeier Sebut Kunjungan ke Indonesia Punya Bobot Strategis di Tengah Konflik Global