Tradisi Minum Susu Murni di Malam 1 Muharram, Permintaan Melonjak 2.500 Liter per Hari

- Senin, 15 Juni 2026 | 14:30 WIB
Tradisi Minum Susu Murni di Malam 1 Muharram, Permintaan Melonjak 2.500 Liter per Hari

Malam pergantian tahun baru Hijriah di Kota Pekalongan tidak hanya diisi dengan doa dan zikir, tetapi juga tradisi unik yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat: minum susu putih murni. Ritual yang dilakukan pada malam 1 Muharram ini telah bertransformasi menjadi fenomena kultural yang dinantikan setiap tahun, di mana warga berbondong-bondong mengonsumsi susu segar sebagai simbol harapan atau tafaulan agar lembaran hidup yang baru berjalan dengan penuh kesucian. Filosofi di balik tradisi ini mencerminkan kebersihan hati, sebagaimana putihnya warna susu yang diminum, sehingga diyakini membawa keberkahan dalam kehidupan.

Meskipun amalan ini bukan termasuk ibadah wajib maupun sunah yang bersumber dari hadis, anjuran para ulama tetap disambut dengan optimisme tinggi oleh masyarakat. Momentum minum susu murni biasanya dilakukan tepat menjelang malam pergantian tahun atau sebelum waktu Subuh. Namun, di balik nilai spiritualnya, tradisi tahunan ini terbukti membawa dampak ekonomi yang signifikan, khususnya bagi para peternak sapi perah lokal.

Lonjakan permintaan yang sangat tajam dirasakan oleh Peternakan Sapi Perah Sari Indah yang berlokasi di Kelurahan Yosorejo, Pekalongan. Budi Setiawan, pemilik usaha yang akrab disapa Wawan, mengungkapkan bahwa grafik permintaan konsumen menjelang Tahun Baru Islam kali ini meningkat drastis. Biasanya, pihaknya hanya melayani permintaan sekitar 350 liter per hari. Namun, dalam dua hari terakhir, angka tersebut melonjak hingga mencapai 2.500 liter.

“Menjelang Tahun Baru Islam, permintaan susu sapi murni melonjak luar biasa. Biasanya kami hanya melayani 350 liter sehari, tapi dalam dua hari ini bisa tembus 2.500 liter,” ujar Wawan.

Kapasitas produksi harian peternakan lokal memang masih terbatas karena faktor jumlah populasi sapi perah yang ada. Dengan total 30 ekor sapi, Peternakan Sari Indah rata-rata hanya mampu memproduksi sekitar 350 liter susu murni per hari. Setiap ekor sapi secara konsisten menghasilkan sekitar 10 liter susu setiap harinya. Akibat permintaan yang membeludak, pihak peternakan terpaksa mendatangkan pasokan tambahan dari wilayah Baturaden dan Tegal untuk memenuhi kebutuhan konsumen.

“Tren ini sudah berjalan sekitar tiga hingga empat tahun terakhir di Pekalongan. Tahun lalu saja permintaannya mencapai 3.000 liter dan itu masih kurang,” tambah pria yang juga menjabat sebagai anggota DPRD Kota Pekalongan tersebut.

Antrean pembeli mulai memadati lokasi peternakan sejak pagi hari menjelang waktu pergantian tahun. Wawan membeberkan bahwa stok awal sebanyak 708 liter yang dibuka sejak pukul 07.30 WIB sudah habis terjual dalam waktu singkat. Pihaknya memprediksi gelombang kedatangan konsumen akan kembali meramaikan area peternakan pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB.

Di tengah tingginya antusiasme warga, pihak peternakan berkomitmen untuk tidak menaikkan harga demi menjaga kepercayaan konsumen. “Meski antusiasme warga sangat tinggi, kami berkomitmen tidak menaikkan harga sama sekali demi menjaga kepercayaan konsumen,” ujarnya. Komitmen menjaga stabilitas harga ini pun diapresiasi masyarakat. Harga agen tetap bertahan pada angka Rp13.500 per liter, sementara untuk konsumen umum, susu sapi murni kualitas segar ini dipasarkan dengan harga Rp18.000 per liter.

Kebijakan tersebut membuat masyarakat dari berbagai penjuru kelurahan antusias datang mengantre untuk berburu pasokan susu. Salah seorang pelanggan setia asal Kelurahan Pringrejo, Saifudin, mengaku sengaja memborong susu demi mengikuti petuah dari kyai. Ia membeli dua liter susu murni untuk dikonsumsi bersama seluruh anggota keluarga besarnya di rumah. Langkah spiritual ini diharapkan mampu membawa energi positif dan kebaikan nyata di masa mendatang.

“Saya membeli susu ini untuk mengikuti anjuran kyai, sebagai simbol memulai lembaran baru yang putih bersih. Kebetulan saya beli dua liter untuk dinikmati bersama keluarga di rumah,” terangnya. Menurutnya, tradisi ini sudah menjadi agenda tahunan. Ia berharap, semoga di tahun baru Islam ini kehidupan umat Islam bisa jauh lebih baik.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar