PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) memutuskan untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback senilai Rp500 miliar di tengah desakan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) agar bank-bank milik negara turun tangan menjaga stabilitas pasar keuangan. Langkah ini diumumkan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin, 15 Juni, dengan periode pelaksanaan yang direncanakan berlangsung mulai 12 Juni hingga 11 September 2026.
Manajemen BRI menyatakan bahwa proses buyback akan dilakukan melalui bursa efek, baik secara bertahap maupun sekaligus, dan harus diselesaikan paling lambat tiga bulan setelah keterbukaan informasi diterbitkan sesuai ketentuan yang berlaku. Dana yang digunakan untuk aksi korporasi ini berasal dari kas internal perusahaan, tanpa menyertakan biaya transaksi seperti komisi perantara pedagang efek dan biaya lain yang diperkirakan maksimal 0,3 persen dari nilai buyback.
Perseroan memastikan bahwa pelaksanaan buyback akan tetap memperhatikan kondisi likuiditas dan permodalan. Jumlah saham hasil pembelian kembali, atau treasury stock, juga dipastikan tidak akan melebihi 10 persen dari modal ditempatkan dan disetor, sesuai dengan regulasi yang berlaku. Manajemen menilai aksi ini tidak akan mengurangi kekayaan bersih perusahaan hingga di bawah jumlah modal ditempatkan dan cadangan wajib.
“Berdasarkan analisis perseroan, tidak terdapat perubahan yang signifikan dengan adanya buyback 2026 terhadap indikator keuangan perseroan,” tulis manajemen dalam pernyataan resminya.
Sementara itu, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad sebelumnya mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah tekanan yang sempat menghantam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah. Ia mendorong bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk melakukan buyback sebagai bagian dari upaya tersebut.
Menurut Dasco, pelemahan IHSG dalam beberapa waktu terakhir tidak mencerminkan kondisi fundamental sejumlah perusahaan besar, khususnya BUMN dan perusahaan swasta yang menjalankan proyek-proyek strategis. Ia juga mengimbau masyarakat yang menyimpan dolar AS untuk mempertimbangkan menjual valuta asing tersebut karena meyakini rupiah berpotensi menguat dalam waktu dekat.
“Karena kalau kemudian sudah minggu depan nilai rupiah menguat, kan kasihan kalau simpan-simpan dolar. Itu imbauan saya sih demikian,” kata Dasco di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis, 11 Juni.
Selain perbankan pelat merah, Dasco menilai perusahaan-perusahaan BUMN lainnya juga dapat mempertimbangkan langkah serupa ketika harga saham mengalami tekanan. “Kemudian lembaga-lembaga yang melakukan investasi maupun pasar tentunya melihat atau melakukan transaksi pembelian pada saat keadaan pasar seperti kemarin (anjlok),” ujarnya.
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Bongkar Pabrik Tembakau Sintetis di Kampung Melayu, Amankan Dua Pengelola
Harga Perak Antam Melonjak Rp1.600 per Gram, Emas Ikut Naik Rp18 Ribu
Kejaksaan Agung Buka Peluang Terapkan Pasal TPPU di Kasus Dugaan Korupsi Makan Bergizi Gratis
Rupiah Menguat 159 Poin ke Rp17.701 per Dolar AS, Diproyeksikan Fluktuatif hingga Akhir Sesi