Perencana keuangan Rista Zwestika, CFP, WMI, dari platform edukasi dan konsultasi keuangan Finante.id, mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan total cicilan utang melampaui 30 persen dari penghasilan bulanan. Batasan itu dinilai penting untuk menjaga kondisi keuangan tetap sehat dan stabil di tengah berbagai ketidakpastian ekonomi.
Menurut Rista, porsi cicilan yang terlalu besar dapat menggerus kemampuan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Lebih dari itu, kondisi tersebut juga berpotensi menghambat upaya menabung, berinvestasi, dan menyiapkan dana darurat yang menjadi fondasi ketahanan finansial jangka panjang.
“Secara umum, total cicilan sebaiknya tidak melebihi 30 persen dari penghasilan bulanan,” ujar Rista dalam pernyataan yang dikutip pada Selasa, 9 Juni 2026.
Ia menjelaskan bahwa batas tersebut memberikan ruang yang cukup bagi individu untuk mengalokasikan pendapatan ke berbagai pos pengeluaran lain. Kebutuhan hidup sehari-hari dan tujuan keuangan jangka panjang, seperti pendidikan atau dana pensiun, tetap dapat terpenuhi tanpa terbebani kewajiban utang yang berlebihan.
Di sisi lain, Rista mengingatkan masyarakat untuk mulai waspada apabila porsi cicilan telah mendekati atau bahkan melampaui 40 persen dari pendapatan bulanan. Kondisi ini, menurutnya, dapat mempersempit ruang gerak keuangan secara signifikan.
“Jika porsi cicilan sudah mendekati atau bahkan melebihi 40 persen dari pendapatan, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat mengurangi fleksibilitas keuangan dan meningkatkan risiko kesulitan keuangan ketika terjadi kenaikan biaya hidup atau penurunan pendapatan,” kata dia.
Rista menekankan pentingnya memperhitungkan seluruh bentuk kewajiban pembayaran secara menyeluruh sebelum mengambil cicilan baru. Mulai dari kredit rumah, kredit kendaraan, kartu kredit, hingga layanan pembiayaan digital atau paylater, semuanya harus masuk dalam kalkulasi agar beban keuangan tidak melampaui kemampuan membayar.
Namun, pengelolaan utang yang bijak bukan berarti menghindari cicilan sepenuhnya. Menurut Rista, kuncinya adalah memastikan seluruh kewajiban masih berada dalam batas aman sehingga tidak mengganggu pemenuhan kebutuhan pokok maupun pencapaian tujuan keuangan di masa depan. Selain itu, ia menilai masyarakat tetap perlu membangun dana darurat dan menyisihkan sebagian pendapatan untuk tabungan serta investasi guna memperkuat ketahanan finansial dalam jangka panjang.
Artikel Terkait
Ledakan di Galian Jalan Fatmawati Akibat Kabel PLN, Dua Pekerja Luka Bakar
Trump Klaim Akan Umumkan Kemenangan Total atas Iran dalam Dua Pekan
Progres Pembangunan Sekolah Rakyat Pandeglang Capai 67,71 Persen, Ditargetkan Beroperasi Juli 2026
Menantu Racuni Mertua Pakai Sate Beracun yang Dikirim Lewat Ojek Online, Polisi Tetapkan Tersangka