Jerman Gagal Raih Kursi Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kalinya dalam Beberapa Dekade

- Kamis, 04 Juni 2026 | 10:15 WIB
Jerman Gagal Raih Kursi Dewan Keamanan PBB untuk Pertama Kalinya dalam Beberapa Dekade

Kanselir Jerman Friedrich Merz harus menerima kenyataan pahit setelah Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa menolak pencalonan negaranya untuk kursi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB. Dalam pemungutan suara yang berlangsung di New York, dua kursi yang diperebutkan justru jatuh ke tangan Portugal dan Austria, meninggalkan Jerman tanpa posisi di badan paling berpengaruh di PBB tersebut untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade.

Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menilai kekalahan ini sebagian besar disebabkan oleh sikap politik Berlin yang mendukung Israel. Faktor tersebut, menurutnya, telah menguras perolehan suara krusial Jerman di mata negara-negara anggota PBB. Kendati demikian, Wadephul menegaskan bahwa hasil pemungutan suara ini tidak akan menyurutkan langkah Jerman untuk terus memegang teguh tanggung jawab historisnya terhadap Israel.

Di sisi lain, Wadephul juga menuding pihak Kremlin sengaja menghasut negara-negara lain untuk menentang Berlin. Langkah Rusia ini disebut sebagai respons atas dukungan tanpa batas Jerman terhadap Ukraina, yang dinilai menjadi dalih untuk menjegal negara tersebut masuk ke dalam Dewan Keamanan PBB.

“Bukan rahasia lagi bahwa Rusia tidak menginginkan suara seperti itu di meja Dewan Keamanan dan mereka juga telah menghasut sentimen yang menentang kami,” ujar Wadephul, seperti dikutip dari pernyataannya pada Kamis, 4 Juni 2026.

Kekalahan ini tidak hanya menjadi kemunduran besar di panggung diplomasi internasional, tetapi juga berpotensi memicu gelombang kritik domestik yang kuat terhadap posisi Merz yang sudah melemah secara politik. Terlebih, sang kanselir memenangi pemilu dengan janji politik untuk memulihkan peran kepemimpinan Jerman di kawasan Eropa. Selama beberapa dekade terakhir, Jerman diketahui selalu berhasil memenangi satu kursi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB jatah wilayah Eropa Barat setiap delapan tahun sekali.

Menjelang pemungutan suara, Wadephul bahkan telah memimpin kampanye lobi yang agresif dengan mendekati secara personal sekitar 80 menteri atau duta besar di seluruh dunia. Namun, para delegasi PBB pada akhirnya lebih memilih Portugal dan Austria, dua negara yang sempat diremehkan Wadephul awal pekan ini sebagai negara Eropa yang lebih kecil.

Sementara itu, hasil pemungutan suara ini menandai rentetan kemenangan diplomatik bagi Lisbon. Portugal dinilai sukses memanfaatkan statusnya sebagai negosiator netral antara Eropa dan bekas wilayah koloninya di Afrika, Asia, serta Amerika Selatan untuk mengonsolidasikan kekuatannya di panggung global. Momentum ini melengkapi pencapaian politik mereka setelah mantan perdana menteri António Guterres dan António Costa kini masing-masing resmi memimpin PBB dan Dewan Eropa.

Langkah sukses Austria dalam mengamankan kursi Dewan Keamanan PBB juga tidak terlepas dari komitmen mereka dalam menjaga netralitas negara yang diatur konstitusi. Austria memanfaatkan status mereka yang bukan merupakan anggota NATO untuk menarik simpati serta dukungan dari negara-negara Afrika, Asia, dan Amerika Latin yang tidak puas terhadap manuver geopolitik Washington di panggung dunia.

Melalui sebuah pesan video yang diunggah di platform X pascapengumuman hasil pemungutan suara, Kanselir Austria Christian Stocker menegaskan bahwa permasalahan dunia tidak dapat diselesaikan melalui dominasi kekuasaan. Ia memastikan negaranya akan berjuang keras untuk mempertahankan prinsip multilateralisme.

“Bukan hak dari yang terkuat yang harus menang, melainkan kekuatan hukum,” kata Stocker.

“Nilai sebuah negara tidak ditentukan oleh ukuran, kekuatan militer, atau kekuatan ekonominya: Yang terpenting adalah kesetaraan semua negara,” tambahnya.

Lawan politik domestik Merz langsung memanfaatkan momentum kekalahan ini untuk meluncurkan serangan politik ke arah kanselir Jerman tersebut. Wakil ketua partai sayap kanan Alternative for Germany, Alice Weidel, mengecam hasil pemungutan suara tersebut sebagai sebuah hal yang memalukan. Menurutnya, kegagalan ini mempertegas ketidakmampuan kanselir dalam memulihkan posisi internasional Jerman.

“Sementara Merz ingin membawa negara kita ‘kembali ke panggung internasional’ di awal masa jabatannya sebagai kanselir, Jerman sekarang tetap tanpa kursi di Dewan Keamanan PBB,” tulis Weidel melalui akun X pribadinya.

Bahkan, kecaman juga datang dari internal partai kiri-tengah, Partai Demokrat Sosial (SPD), yang sejatinya berada dalam satu koalisi pemerintahan bersama partai konservatif pimpinan Merz. Mereka menyebut kegagalan total ini sebagai sebuah bencana. Juru bicara kebijakan luar negeri untuk fraksi parlementer SPD, Adis Ahmetovic, menilai pemungutan suara ini merupakan indikator objektif mengenai bagaimana posisi Jerman dipandang di mata internasional. Ahmetovic menambahkan bahwa hasil buruk ini bukan sekadar kecelakaan kecil biasa dalam berdiplomasi, melainkan sebuah sinyal peringatan yang serius bagi pemerintah Jerman.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar