Ketahanan eksternal ekonomi Indonesia menghadapi ujian berat pada awal kuartal II-2026 setelah Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan surplus neraca perdagangan pada April 2026 anjlok drastis menjadi hanya US$0,09 miliar. Angka ini merosot tajam dibandingkan capaian Maret 2026 yang masih melaju kencang dengan surplus sebesar US$3,32 miliar. Meskipun menyusut sangat signifikan, catatan tersebut membuat tren surplus Indonesia masih terus berlanjut.
Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) memilih untuk tetap optimistis. Bank sentral menilai sisa-sisa surplus tersebut masih memiliki peran krusial bagi stabilitas ekonomi dalam negeri.
“Bank Indonesia memandang berlanjutnya surplus neraca perdagangan ini positif untuk menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia lebih lanjut,” ujar Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulis, Rabu (3/6/2026).
Jebloknya performa neraca perdagangan pada April 2026 dipicu oleh lonjakan defisit di sektor minyak dan gas (migas) yang kian tak terkendali. Defisit neraca perdagangan migas tercatat meningkat menjadi US$3,44 miliar pada bulan tersebut. Pembengkakan ini terjadi sejalan dengan peningkatan impor migas di tengah penurunan ekspor migas secara bersamaan.
Di sisi lain, Indonesia masih diselamatkan oleh performa sektor nonmigas yang tetap tangguh menahan gempuran defisit. Neraca perdagangan nonmigas pada April 2026 mampu mencatat surplus sebesar US$3,53 miliar. Surplus tersebut berhasil diamankan seiring dengan meningkatnya nilai ekspor nonmigas yang menembus angka US$24,15 miliar.
Kinerja moncer ini disokong oleh dua kekuatan utama. Pertama, komoditas sumber daya alam yang didorong oleh ekspor lemak dan minyak hewani atau nabati, serta bahan bakar mineral. Kedua, produk manufaktur yang ditopang oleh ekspor mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya, serta kendaraan dan bagiannya.
Sementara itu, dari sisi geopolitik dagang, tiga negara raksasa masih menjadi motor utama penyerap produk Indonesia. Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan India tetap menjadi kontributor utama.
Bank Indonesia menegaskan tidak akan tinggal diam dan bersiap merapatkan barisan dengan pemangku kebijakan lain demi menjaga pertumbuhan ekonomi nasional agar tidak ikut melambat.
Artikel Terkait
Industri Hiburan Digital Makin Moncer, Platform Game Seluler Kopi77 Juara Hadirkan Pengalaman Imersif bagi Pengguna
DPRD DKI Percepat Strategi Komprehensif Atasi Sampah Demi Tingkatkan Taraf Hidup Warga
Zulkifli Hasan: Penunjukan Kepala BGN Baru Bukti Presiden Dengarkan Aspirasi Masyarakat
DPR Rampungkan Pembahasan Revisi UU P2SK, Siap Dibawa ke Paripurna