Negosiasi AS-Iran Mandek, Iran Manfaatkan Selat Hormuz sebagai Alat Tekan Strategis

- Sabtu, 25 April 2026 | 09:20 WIB
Negosiasi AS-Iran Mandek, Iran Manfaatkan Selat Hormuz sebagai Alat Tekan Strategis

Situasi di Teluk Persia memang rumit. Saluran diplomatik antara AS dan Iran secara resmi masih terbuka. Presiden Trump bahkan sudah mengumumkan perpanjangan gencatan senjata di pertengahan minggu ini. Tapi kenyataannya? Pembicaraan kedua negara itu mandek. Belum ada jadwal baru untuk negosiasi berikutnya. Beberapa pertemuan yang sempat direncanakan tertunda. Entah kelanjutannya bagaimana.

Menurut kantor berita nasional Iran, Tasnim, Teheran sampai sekarang belum punya rencana untuk ikut serta dalam pembicaraan damai dengan AS. Padahal, media AS sebelumnya melaporkan bahwa putaran baru negosiasi mungkin digelar pada Jumat, 24 April. Tapi lagi-lagi, tidak ada kepastian.

Dalam putaran baru nanti kalau memang jadi ada satu poin utama buat Trump: menghentikan program nuklir Iran. Tapi isu sensitif lain juga bakal ikut dibahas. Misalnya, soal penggunaan Selat Hormuz di masa depan. Jalur strategis yang selalu panas itu.

Pada Kamis, 23 April, rezim di Teheran mengumumkan sesuatu yang menarik. Mereka bilang sudah menerima pembayaran bea pelayaran dari kapal yang melintasi selat yang sempat diblokir. "Biaya tol pertama sudah disetorkan ke rekening Bank Sentral Iran," kata Tasnim, mengutip wakil ketua parlemen Iran. Entah benar atau sekadar gertakan, yang jelas ini sinyal.

"Permainan Kesabaran Taktis"

Menurut para ahli, apa yang terjadi sekarang ini lebih mirip pertarungan strategi dan ketahanan. Bukan soal serangan militer langsung. Lebih ke soal waktu, pengaruh, dan siapa yang paling kuat mentalnya.

"Saat ini, kedua belah pihak seperti sedang dalam permainan kesabaran taktis," kata Hanna Voß, pakar Timur Tengah dari Friedrich-Ebert-Stiftung, kepada DW. Iran, katanya, bertindak sangat hati-hati. Mereka tidak buru-buru merespons ajakan bicara dari AS.

"Di Teheran, ada kekhawatiran besar bahwa ini adalah tipu daya. Negosiasi, tapi di saat yang sama militer tetap siap sedia."

Kewaspadaan ini bukan tanpa alasan. Pauline Raabe, analis politik dari think tank Berlin Middle East Minds, bilang dalam wawancara dengan DW bahwa perhitungan strategis ikut bermain. "Bagi Iran, taruhannya jauh lebih besar karena ini menyangkut wilayahnya sendiri."

Karena itu, Teheran menggunakan instrumen yang mereka miliki dengan bijak. "Berkaitan dengan Selat Hormuz, Iran tidak diragukan lagi berada dalam posisi yang kuat. Saat ini, Hormuz adalah instrumen penting."

Menurut Center for Strategic and International Studies (CSIS), posisi ini tidak cuma efektif secara militer. Lebih dari itu, efek ekonominya besar. Iran memanfaatkan letak geografisnya buat menekan ekonomi global. Caranya? Dengan mengendalikan lalu lintas di Selat Hormuz.

Jadi, energi jelas jadi isu utama. Washington Institute juga menekankan bahwa minyak dan gas adalah faktor penentu. Konsekuensinya jangka panjang, baik buat pasar regional maupun global.

Selat Hormuz sebagai 'Kartu As' Iran

Hormuz, kata Voß, adalah instrumen yang gampang dipakai. "Tidak perlu banyak usaha untuk memblokir jalur ini secara efektif."

Cukup dengan ancaman saja, dampak ekonomi sudah terasa. Perusahaan pelayaran mundur. Perusahaan asuransi menarik diri. Di saat yang sama, senjata nirawak dan ranjau terus mengancam jalur laut. "Dengan kata lain: Secara taktis, Iran saat ini memegang kendali yang lebih kuat. Dan dari situlah muncul keunggulan strategis."

Raabe menambahkan dimensi militer. Katanya, "Tampaknya Iran kerap diremehkan. Tapi negara itu terbukti masih mampu meluncurkan rudal secara rutin."

Ini bertentangan dengan anggapan bahwa Iran sudah melemah. Sebaliknya, dalam beberapa tahun terakhir, mereka justru meningkatkan kemampuan militernya secara terarah.

Aktor Ideologis

Di sisi lain, konflik ini ternyata melampaui ranah militer. Washington Institute menggambarkan Iran sebagai aktor yang tidak hanya bertindak sebagai negara, tapi juga sebagai aktor ideologis. Kesepakatan-kesepakatan memang dibuat, tapi biasanya bersifat praktis. Sikap dasar Iran tidak berubah.

Karakteristik struktural ini juga terlihat di dalam negeri. "Pimpinan Iran siap menuntut banyak hal dari rakyatnya sendiri," kata Voß. "Tingkat penderitaan di dalam negeri selama puluhan tahun jauh lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat Barat."

Raabe menyoroti dinamika sosial. "Ketika masyarakat dalam negeri menyaksikan negaranya diserang dari luar, hal itu bisa mempererat hubungan mereka."

Tapi, kata dia, itu tidak berarti otomatis dukungan terhadap rezim. Lebih sebagai reaksi terhadap tekanan eksternal.

Sementara Iran mengandalkan strategi bertahan jangka panjang, tekanan politik di AS justru meningkat. "Seiring berjalannya waktu, dampak ekonomi semakin terasa," ujar Raabe. Kenaikan harga energi dan ketidakpastian pasar langsung berdampak pada opini publik.

Namun, dalam jangka pendek, konflik ini justru menstabilkan sistem Iran. "Ini mengarah pada konsolidasi internal," kata Voß. Perang ini sesuai dengan logika ideologis yang sudah dipersiapkan rezim.

Konsesi dan Imbalan

Dinamika diplomatik pun bergeser. Surat kabar pan-Arab Al-Quds al-Arabi melihat tekanan yang makin besar terhadap Washington untuk meredam konflik secara politis. Di saat yang sama, Teheran tampil semakin percaya diri. Mereka menuntut imbalan konkret untuk setiap konsesi misalnya pelonggaran sanksi atau pencairan aset Iran yang dibekukan.

Keberhasilan strategi ini juga terkait dengan perang asimetris. Menurut CSIS, meskipun Teheran kalah secara militer, mereka masih bisa memberi pengaruh lewat serangan siber, sabotase, dan tekanan ekonomi.

Washington Institute memperkirakan beberapa skenario. Pertama, "kekalahan tersembunyi" AS lewat gencatan senjata, sementara Iran tetap mempertahankan pengaruhnya. Skenario lainnya adalah "kekalahan terbuka" AS, di mana Teheran bertahan sampai AS tidak sanggup lagi membendung tekanan.

Pada akhirnya, konflik ini menyempit jadi satu pertanyaan: Siapa yang bisa bertahan lebih lama secara ekonomi, politik, dan sosial? Atau, seperti kata Raabe, "Waktu yang ada saat ini cenderung tidak berpihak pada AS." Dan Voß menambahkan, "Waktu sedang berpihak pada Iran."

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar