Jakarta punya segudang kekayaan alam yang bikin kita semua bangga. Flora dan faunanya beragam, jadi magnet kuat buat turis lokal maupun dari luar negeri. Tapi, bicara soal pesona alam, jangan lupakan sungai-sungainya yang memesona. Jaringan sungai ini membelah banyak wilayah, bukan cuma indah dipandang, tapi juga punya nilai ekologis yang luar biasa tinggi.
Nah, kalau ngomongin sungai terpanjang, jawabannya ada di Kalimantan Barat. Tepatnya di Kabupaten Kapuas Hulu. Sungai Kapuas, begitu namanya, membentang sejauh 1.143 kilometer. Alirannya berawal dari Pegunungan Muller dan berakhir di Selat Karimata. Lebarnya bervariasi, mulai dari 70 hingga 150 meter, tergantung dari hulu ke hilir. Panjangnya memang luar biasa, tapi daya tarik sungai ini jauh lebih dari sekadar angka itu.
Menurut laman Traveloka, Sungai Kapuas punya beberapa nama lain. Ada yang menyebutnya Sungai Kapuas Buhang. Di daerah tertentu, seperti Kabupaten Melawi, aliran anak sungainya dikenal dengan nama Sungai Batang Lawai. Nama ‘Lawai’ sendiri konon berasal dari sebutan daerah tersebut di masa lalu.
Di sisi lain, sungai ini juga punya peran penting dalam tata kota. Ia membelah Pontianak, memisahkan Kecamatan Pontianak Utara dan Pontianak Timur. Kondisi geografis ini jelas memengaruhi kehidupan warga. Mereka bergantung pada jembatan penghubung untuk mobilitas sehari-hari, menyeberang dari satu sisi ke sisi lain.
Namun begitu, Sungai Kapuas bukan cuma soal geografi atau transportasi. Ia menyimpan cerita yang lebih dalam. Nilai budayanya sangat kental, terkait erat dengan legenda lokal yang masih dipercaya dan diceritakan turun-temurun.
Legenda Rakyat Dibalik Sungai Kapuas
Konon, legenda ini berawal dari Kerajaan Kahayan Hilir. Kerajaan itu makmur dan damai di bawah pimpinan seorang raja yang bijaksana. Tapi kedamaian itu mulai terusik oleh masalah klasik: siapa yang akan naik tahta?
Sang raja punya dua putra kembar, Naga dan Buaya. Sifat keduanya bertolak belakang. Bingung menentukan pilihan, sang raja memutuskan untuk menyepi. Kerajaan untuk sementara diserahkan pada kedua putranya.
Sayangnya, Naga justru memanfaatkan kekuasaan itu untuk hal-hal yang tidak terpuji. Buaya pun menegurnya. Perselisihan mereka memanas, berujung pada pertengkaran sengit.
Mendengar kabar itu, sang raja yang murka akhirnya mengutuk kedua anaknya. Naga dan Buaya berubah wujud menjadi makhluk yang namanya sama dengan panggilan mereka. Terkutuk, keduanya lalu pergi dan memilih Sungai Kapuas sebagai tempat tinggal.
Legenda itu mungkin berakhir tragis. Tapi bagi masyarakat setempat, kisahnya belum benar-benar usai. Mereka percaya, sampai sekarang, roh Naga dan Buaya masih menjadi penunggu di aliran Sungai Kapuas yang panjang dan penuh misteri itu.
(Odetta Aisha Amrullah)
Artikel Terkait
Indonesia Kembali Desak Reformasi Dewan Keamanan PBB, Nilai Hak Veto Hambat Suara Negara Berkembang
Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selama Cuti Bersama Idul Adha 1447 H
Wamendesa: Kritik pada Program Pemerintah Bagian dari Demokrasi, Semua Pihak Diajak Bangun Desa
China Serukan Gencatan Senjata Komprehensif di Kawasan Teluk dalam Pertemuan PBB