WHO dan UNICEF Laporkan 214 Serangan Terhadap Fasilitas Medis Tewaskan Lebih dari 2.000 Orang di Sudan

- Senin, 06 April 2026 | 01:45 WIB
WHO dan UNICEF Laporkan 214 Serangan Terhadap Fasilitas Medis Tewaskan Lebih dari 2.000 Orang di Sudan

Khartoum – Laporan terbaru dari dua badan PBB membuka mata kita tentang situasi mengerikan di Sudan. Setidaknya 2.042 orang tewas dan 785 lainnya luka-luka. Angka itu bukan muncul dalam pertempuran langsung, melainkan dari 214 serangan terpisah yang menyasar fasilitas layanan medis sejak konflik meletus tahun 2023 lalu.

Menurut pernyataan bersama WHO dan UNICEF, kekerasan ini sama sekali tidak mereda. Baru di tiga bulan pertama tahun 2026 ini saja, sudah ada 184 korban jiwa dan 295 korban luka yang tercatat. Serangannya makin menjadi-jadi, baik skalanya maupun frekuensinya, terutama di wilayah-wilayah yang jadi pusat konflik.

“Serangan-serangan ini semakin membatasi akses ke layanan kesehatan pada saat layanan tersebut paling dibutuhkan,”

kata Shible Sahbani, perwakilan WHO untuk Sudan. Ia menegaskan pentingnya perlindungan bagi pasien dan para tenaga kesehatan yang masih bertahan.

Di sisi lain, Sheldon Yett dari UNICEF menyoroti dampak khusus pada anak-anak. Baginya, menyerang rumah sakit adalah pelanggaran serius terhadap hak-hak anak. Hal itu secara paksa merenggut perlindungan dan layanan penting yang justru sangat dibutuhkan di saat-saat paling rentan dalam hidup mereka.

Intinya, kedua badan PBB ini sepakat. Menyerang fasilitas kesehatan, staf medis, dan pasien bukan hanya melanggar hukum humaniter internasional, tapi juga memperburuk krisis kemanusiaan yang sudah ada di titik nadir. Sudan benar-benar terpuruk.

Mereka pun mendesak semua pihak yang bertikai. Seruannya jelas: hormati dan lindungi layanan kesehatan, jamin keselamatan warga sipil serta pekerja kemanusiaan, dan bukalah akses berkelanjutan untuk layanan esensial. Tanpa itu, penderitaan akan terus berlipat ganda.

Konflik antara Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan kelompok paramiliter Pasukan Dukungan Cepat (RSF) ini memang sudah menghancurkan. Pecah sejak pertengahan April 2023, pertempuran tak berujung ini, menurut catatan berbagai organisasi internasional, telah menewaskan puluhan ribu orang. Jutaan lainnya terpaksa mengungsi, kehilangan segala yang mereka miliki.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar