Kendari, pasca-Lebaran 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, suasana riuh mudik memang sudah mereda. Tapi bagi Dinas Kesehatan Sulawesi Tenggara, justru ini saatnya meningkatkan kewaspadaan. Mereka mengkhawatirkan gelombang mobilitas warga bisa membawa dampak lain: potensi penyebaran penyakit campak.
Kepala Dinkes Sultra, Andi Edy Surahmat, mengakui temuan kasus di wilayahnya masih terbilang rendah. Angkanya fluktuatif, cuma satu atau dua pasien, dan belum meluas. Namun begitu, kewaspadaan tak boleh kendur. "Penularannya cepat lewat udara, mirip TB," katanya, Selasa (31/3/2026).
"Lewat droplet di udara, terutama setelah interaksi tinggi saat Lebaran," jelas Andi.
Masalahnya, virus ini punya masa inkubasi yang cukup lama, sekitar dua minggu. Selama itu, orang yang sudah tertular tapi belum bergejala bisa saja tanpa sadar menulari orang di sekitarnya. Itu yang bikin was-was.
Sebagai langkah antisipasi, surat edaran kewaspadaan sudah dikirim ke seluruh faskes di kabupaten dan kota. Intinya, mendorong deteksi dini lewat sistem surveilans dan melakukan pelacakan atau tracing terhadap kontak erat pasien.
Di sisi lain, Andi merasa perlu menyoroti sesuatu yang sering dianggap remeh: risiko fatal campak. Banyak orang pikir penyakit ini cuma demam dan ruam kulit. Padahal, komplikasinya bisa serius, bahkan berujung kematian. Bayi di bawah sembilan bulan yang belum dapat imunisasi dasar adalah kelompok paling rentan.
"Pada bayi, campak sering memicu diare berat sampai dehidrasi akut. Tak jarang, kematian bayi sebenarnya dipicu campak, tapi dikira cuma gangguan pencernaan biasa," paparnya.
Imbauannya jelas. Para orang tua harus memastikan anak dapat imunisasi campak tepat waktu, yaitu di usia sembilan bulan. Itu langkah perlindungan paling efektif. Untuk masyarakat umum, protokol kesehatan sederhana tetap berlaku. Pakai masker di keramaian, dan isolasi mandiri jika ada keluarga yang demam tinggi plus muncul bintik kemerahan.
Timnya akan terus memantau perkembangan situasi dalam dua pekan ke depan. "Sampai saat ini belum ada laporan lonjakan signifikan," ungkap Andi. Tapi tim medis di lapangan, katanya, tetap dalam posisi siaga. Bersiap untuk segala kemungkinan.
Artikel Terkait
Trump Desak Negara-negara Muslim Segera Bergabung dalam Abraham Accords
Persis Solo Degradasi, Pelatih Milo Yakin Tim Segera Bangkit ke Kasta Tertinggi
BCA Resmi Buka Jalur Top Up ShopeePay via ATM, BCA Mobile, dan myBCA
Polri Pastikan Blackout Sumatera Bukan Sabotase, Penyebabnya Faktor Teknis dan Cuaca Ekstrem