Optimisme Shin Tae-yong soal masa depan Timnas Indonesia terasa begitu besar. Mantan pelatih asal Korea Selatan itu punya keyakinan kuat: di bawah kendali John Herdman, skuad Garuda punya peluang nyata untuk melangkah ke Piala Dunia 2030.
Ini bukan sekadar ucapan dukungan biasa. Pernyataan Shin lebih merupakan analisis, lahir dari pengalamannya sendiri dan kualitas pelatih yang baru dipercaya PSSI tersebut.
Menurut Shin, Herdman punya rekam jejak dan pendekatan yang pas untuk mengangkat level Indonesia. Apalagi, fondasi pemainnya semakin matang. Lihat saja, ada beberapa nama yang sudah merasakan atmosfer sepak bola Eropa, sebut saja Jay Idzes. Dengan modal seperti ini, mimpi ke panggung dunia bukan lagi sesuatu yang mustahil.
Rekam Jejak yang Bicara
John Herdman jelas bukan sosok asal-asalan. Namanya tercatat dalam sejarah setelah berhasil membawa Timnas Kanada lolos ke Piala Dunia 2022. Sebuah prestasi yang mengakhiri penantian panjang negara itu sejak 1986.
Keberhasilannya itu berakar pada kemampuannya membangun tim yang solid. Bukan cuma dari sisi taktik, tapi juga mental. Herdman dikenal sebagai pelatih yang sangat menekankan persatuan. Saat mengambil alih Kanada, ia berhasil menyatukan ruang ganti yang sebelumnya penuh gejolak dan konflik internal.
Hasilnya? Kanada tampil kompetitif di zona CONCACAF dan akhirnya kembali ke Piala Dunia.
Melihat track record itu, wajar jika Shin Tae-yong optimis. Ia yakin Herdman bisa melakukan hal serupa di Indonesia.
“Fokus pemain dan mungkin membangun struktur yang bagus secara sistematis pasti akan bisa lolos ke Piala Dunia 2030 dan 2034,” ujar Shin, Jumat (20/2/2026).
Bagi Shin, kuncinya tidak cuma strategi di lapangan hijau. Tapi lebih pada sistem pembinaan dan struktur organisasi tim yang berjalan berkelanjutan.
Melihat ke Belakang, Melangkah ke Depan
Sebelum era Herdman, Indonesia sempat punya harapan di bawah asuhan Shin Tae-yong untuk menuju Piala Dunia 2026. Sayangnya, di tengah putaran ketiga kualifikasi, Shin digantikan oleh Patrick Kluivert.
Perjalanan pun akhirnya terhenti di putaran keempat. Dua kekalahan krusial dari Arab Saudi dan Irak menjadi penutup perjuangan saat itu.
Kini, dengan pelatih baru dan optimisme dari pelatih lama, babak baru telah dimulai. Tantangan menuju 2030 jelas berat, tapi setidaknya ada keyakinan yang mulai tumbuh.
Artikel Terkait
Tiga Remaja Tewas Tertabrak Kereta Api Saat Diduga Berfoto di Rel Batang
Chelsea Gagal Menang di Kandang Usai Ditahan Imbang Burnley
Telkomsel Resmi Berlakukan Registrasi Kartu Perdana dengan Verifikasi Wajah
Como Tundukkan Juventus 2-0 di Allianz Stadium