Jakarta - Ribuan ikan mati mengambang di permukaan Sungai Cisadane. Pemandangan menyedihkan itu adalah dampak langsung dari kebakaran gudang pestisida di kawasan BSD Serpong, yang kini memicu kekhawatiran serius soal pencemaran lingkungan. Zat kimia berbahaya dari lokasi kebakaran diduga kuat telah meresap ke aliran drainase dan akhirnya mengalir ke sungai.
Dari Gudang Terbakar ke Aliran Sungai
Semuanya berawal dari insiden pada 9 Februari 2026 lalu. Sebuah gudang milik PT Biotek Saranatama di Taman Tekno BSD Serpong, yang menyimpan pestisida jenis cypermetrin dan profenofos, dilalap si jago merah. Api tak hanya menghanguskan bangunan. Menurut data, sekitar 20 ton bahan kimia pestisida ikut terbakar. Limbah sisa kebakaran itu kemudian terbawa air hujan, menyusuri saluran, dan akhirnya mencemari Cisadane.
Dampaknya luas sekali. Pencemaran dilaporkan telah menyebar sejauh kurang lebih 22,5 kilometer, melintasi tiga wilayah: Kota Tangerang Selatan, Kota Tangerang, dan Kabupaten Tangerang. Yang paling kasat mata adalah kematian massal biota sungai. Ikan mas, baung, patin, nila, sampai ikan sapu-sapu yang dikenal tangguh pun tak selamat.
Upaya Darurat dan Peringatan Keras
Menyikapi bencana ini, sejumlah upaya darurat langsung digeber. Pemerintah Kota Tangerang bersama relawan, misalnya, sudah menuangkan 1.500 liter ecoenzyme ke aliran sungai. Tujuannya untuk meminimalisir dampak, mengurangi bau, dan memulai proses pemulihan air secara alami. Di sisi lain, petugas juga sibuk mengangkati bangkai hewan dan sampah yang menumpuk di sekitar bantaran sungai.
Namun begitu, pemerintah juga mengeluarkan imbauan keras untuk masyarakat. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang secara khusus melarang warga menangkap, mengolah, apalagi mengonsumsi ikan dari Sungai Cisadane. Risikonya jelas: keracunan atau gangguan kesehatan akibat paparan zat kimia.
Kepala Dinas Kesehatan setempat, Dini Anggraeni, mempertegas imbauan itu.
"Paparan limbah kimia ini bisa memicu sejumlah masalah kesehatan. Mulai dari iritasi kulit, gangguan pernapasan, sampai mual dan muntah," jelasnya.
Aktivitas lain yang melibatkan air sungai juga diminta untuk dihentikan sementara waktu.
Tanggung Jawab Perusahaan dan Upaya Pemulihan
Lantas, apa yang dilakukan perusahaan penyebabnya? PT Biotek Saranatama kini tengah berupaya memulihkan kualitas air. Mereka menyebarkan adsorben pestisida sebagai penetralisir di aliran yang tercemar. Langkah ini disebut sebagai bentuk pertanggungjawaban atas keresahan yang timbul di masyarakat.
Tak cuma menekan tingkat pencemaran, perusahaan juga mulai mengembalikan ekosistem. Mereka telah menebar ribuan bibit ikan, seperti lele, nila, dan gurame, ke sungai. Upaya restorasi ini diharapkan bisa mengembalikan kehidupan ke Cisadane, meski prosesnya pasti tak akan instan. Pemulihan sungai yang sudah tercemar berat seperti ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan komitmen berkelanjutan dari semua pihak.
Artikel Terkait
Siswa SMPN 26 Bandung Tewas Ditikam Usai Putuskan Pertemanan
Ledakan di Toko Kembang Api Jiangsu Tewaskan 8 Orang
PSM Makassar Hadapi Persija Tanpa Dua Pilar Asing Akibat Cedera dan Hukuman Kartu Merah
Gubernur Babel dan KASAL Serahkan Bantuan Sembako ke Nelayan di Tengah Hujan