MURIANETWORK.COM - Lanskap perdagangan daring global sedang menghadapi ujian berat. Laporan terbaru dari Otto Media Grup mengungkap bahwa pertumbuhan e-commerce lintas batas justru terhambat oleh kompleksitas aturan, bukan lagi oleh minimnya permintaan. Dengan nilai transaksi yang diproyeksikan mendekati 1,24 triliun dolar AS pada 2025, ironisnya sekitar 70% pesanan justru berakhir dibatalkan. Akar masalahnya terletak pada ketidakpastian pajak, bea cukai, ongkos kirim, dan yang terpenting, kepatuhan terhadap regulasi yang berbeda di setiap negara tujuan.
Pergeseran Tantangan: Dari Ekspansi ke Kepatuhan
Laporan bertajuk "Laporan E-Commerce Global 2025" itu menandai pergeseran paradigma yang signifikan. Hambatan utama bukan lagi soal menarik minat pembeli atau ketersediaan barang, melainkan kemampuan menyelesaikan pesanan hingga tuntas di ujung sana. Tantangan strategis telah bergeser dari sekadar akuisisi pasar menuju orkestrasi kepatuhan yang rumit melintasi berbagai yurisdiksi hukum.
Fokusnya kini adalah pada detail operasional yang sering diabaikan: perhitungan pajak yang akurat, kelengkapan dokumen kepabeanan, kebijakan platform digital, hingga aturan perlindungan data yang beragam. Inilah ranah tak kasat mata yang justru menentukan keberhasilan atau kegagalan sebuah transaksi internasional.
Era Pengetatan Regulasi di Berbagai Penjuru
Gelombang pengetatan aturan sedang terjadi secara hampir bersamaan di pusat-pusat ekonomi dunia. Di China, nilai ekspor-impor e-commerce lintas batas diproyeksikan sangat besar, namun dibarengi dengan pengawasan pajak dan barang yang semakin ketat dan rinci.
Sementara itu, di Amerika Serikat, sistem bebas pajak untuk barang bernilai rendah diperkirakan akan berakhir pada 2025. Perubahan kebijakan ini diperkirakan akan berdampak signifikan, terutama pada sekitar 70% paket yang berasal dari China. Di seberang Atlantik, Uni Eropa telah memperkuat tanggung jawab platform daring dalam hal pemungutan dan penyetoran pajak, menyusul reformasi pajak e-commerce yang diberlakukan.
Dampak Langsung pada Pelaku Usaha
Bagi banyak merek yang beroperasi di kawasan seperti Asia Tenggara, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Eropa, situasi ini menciptakan kontradiksi yang nyata. Di satu sisi, anggaran besar dialokasikan untuk iklan dan subsidi guna mendongkrak nilai transaksi (GMV). Namun di sisi lain, urusan krusial seperti pelaporan pajak lintas batas, dokumen bea cukai, dan kepatuhan data masih sering mengandalkan proses manual dan layanan alih daya yang terfragmentasi.
Akibatnya, lebih dari separuh merek e-commerce lintas batas terpaksa menarik produk atau menghentikan kampanye iklan sementara waktu akibat persoalan kepatuhan. Tidak tanggung-tanggung, lebih dari sepertiga kerugian finansial mereka disebabkan oleh satu hal: "pesanan yang tidak dapat diselesaikan dengan lancar."
Solusi Teknologi untuk Navigasi Kerumunan Aturan
Merespons tantangan ini, Otto Media Grup mengembangkan modul bernama WorldBridge. Inti dari sistem ini adalah membangun peta digital untuk navigasi kepatuhan lintas batas. Caranya dengan menyatukan berbagai elemen kritis sistem pajak, proses bea cukai, pemeriksaan platform, konten sensitif, hingga persyaratan privasi data ke dalam satu mesin aturan yang dapat disimulasikan, divalidasi, dan dipantau secara real-time.
Implementasi WorldBridge diklaim mampu mempersingkat siklus perencanaan hingga pesanan pertama di pasar baru, menekan tingkat penolakan dari pemeriksaan platform, serta mempersempit kisaran prediksi biaya pajak dan pemenuhan pesanan, sehingga memberikan kepastian yang lebih besar bagi pedagang.
Peringatan dari Pelaku Industri
Budi Santoso, CEO Otto Media Grup, menegaskan bahwa perubahan lanskap ini menuntut pendekatan bisnis yang lebih matang dan terstruktur. Dalam keterangan tertulisnya, Minggu (15/2/2026), Budi mengingatkan banyak pelaku usaha yang masih terjebak pada pola pikir lama.
"Banyak brand masih berpikir pertumbuhan lintas batas hanya soal trafik dan GMV. Padahal, yang menentukan keberlanjutan adalah kepastian kepatuhan. Jika pajak, bea cukai, dan aturan data tidak disimulasikan sejak awal, maka setiap pesanan berpotensi menjadi risiko," tuturnya.
Dia menambahkan, "Kami melihat masa depan e-commerce bukan lagi tentang ekspansi cepat, tetapi ekspansi yang terukur dan patuh."
Masa Depan: Fondasi yang Kuat Di Atas Ekspansi Cepat
Laporan tersebut pada akhirnya menyimpulkan bahwa kompetisi di arena e-commerce global tidak lagi dimenangkan oleh belanja iklan yang besar atau kurva pertumbuhan GMV yang cuik. Keunggulan kompetitif justru akan ditentukan oleh kemampuan mengubah rantai pemenuhan yang selama ini tak terlihat menjadi fondasi pertumbuhan yang andal dan tahan uji.
Dengan regulasi global yang kian ketat, merek-merek didorong untuk beralih dari pendekatan berbasis peluang semata menuju pendekatan berbasis aturan. Kepatuhan harus ditempatkan sebagai landasan fundamental dalam setiap keputusan, mulai dari pengembangan produk, penetapan harga, pembuatan konten, hingga strategi pemasangan iklan. Di tengah ketidakpastian, pertumbuhan yang berkelanjutan justru akan bertumpu pada pengiriman yang stabil dan pembangunan kepercayaan yang konsisten dari waktu ke waktu.
Artikel Terkait
Menteri Luar Negeri Taiwan Tuding Aktivitas Militer China Sebagai Provokasi
Bareskrim dan Bea Cukai Amankan Pria dan Sabu dalam Operasi di Rokan Hulu
Polri Buru Bandar Narkoba Penyupali Mantan Kapolres Bima Kota
Sopir Taksi Online Laporkan Penumpang Diduga Lakukan Tindakan Asusila di Cipulir