Kemarahan bergulir di kalangan Muslim global. Pemicunya? Dokumen yang baru dirilis Departemen Kehakiman AS mengungkap kiriman mengejutkan: potongan Kiswah, kain penutup Ka'bah yang disucikan, dikirim ke alamat Jeffrey Epstein. Terpidana kasus kejahatan seksual yang sudah meninggal itu.
Berkas itu beredar akhir Januari lalu. Di dalamnya, ada email dari 2017 yang membahas pengiriman tiga potong kain yang disebut-sebut sebagai bagian dari Kiswah, dari Arab Saudi menuju rumah Epstein di Karibia.
"Bayangkan!" tulis seorang pengguna X, suaranya mewakili banyak orang. "Mengirimkan kain dari tempat paling suci di Bumi, ke tempat paling kotor!"
Kemarahan itu makin menjadi karena sebuah foto lama tahun 2014. Di situ, Epstein dan seorang pria terlihat memeriksa sehelai kain berornamen yang tergeletak di tanah. Polanya mirip dengan bagian 'Belt' atau 'Samadias' di pintu Ka'bah. Pengguna media sosial lain mengaku hancur hatinya melihat kain yang dihormati itu "dibentangkan di lantai seperti karpet".
Meski begitu, foto itu tampaknya tak terkait langsung dengan pengiriman 2017. Dan keaslian kain dalam foto itu sendiri masih jadi tanda tanya.
Kiriman yang Mengusik Hati
Kiswah bukan sekadar kain. Dibuat dari sutra hitam, ia dihiasi sulaman ayat Al-Quran dengan benang emas dan perak, menyelimuti Ka'bah di Mekah. Setiap tahun, setelah disentuh jutaan jamaah haji, ia diganti dengan yang baru. Lalu, bagaimana mungkin potongannya bisa sampai ke tangan seorang seperti Epstein?
Dari arsip DOJ, terlihat percakapan email antara staf Epstein dan seseorang bernama "Aziza al-Ahmadi". Dialah yang disebut mengatur pengiriman tiga potongan itu: satu hijau dari bagian dalam Ka'bah, satu hitam dari lapisan luar yang pernah dipakai, dan satu lagi bordiran yang tak terpakai.
Dalam email 1 Februari 2017, seorang asisten Ahmadi memberi tahu staf Epstein bahwa mereka akan "mengirimkan beberapa potongan kain Ka'bah untuk masjid". Masjid mana? Tidak jelas. Di pulau pribadi Epstein, Little St. James, hanya ada bangunan kecil berkubah emas yang disebut "kuil" dalam dokumen. Bukan Masjidil Haram, tentu saja.
Paket itu tiba di rumah Epstein di Palm Beach awal Maret 2017, lalu dikirim lagi ke St. Thomas, dekat pulau pribadinya. Di formulir bea cukai, kiriman ini dicatat sebagai "lukisan, gambar, dan patung" senilai hampir 11 ribu dolar AS.
Setelah paket tiba, email dari akun Ahmadi menjelaskan pada Epstein bahwa kain hitam itu "telah disentuh oleh minimal 10 juta Muslim".
"Mereka berjalan mengelilingi Ka'bah tujuh kali, lalu semua orang berusaha sekuat tenaga untuk menyentuhnya dan mereka menaruh doa, harapan, air mata, dan impian mereka pada kain ini,"
demikian isi email tersebut. Entah Epstein dapat ini sebagai hadiah atau beli, dan entah asli atau tidak, semuanya masih samar.
Barang Terhormat untuk Tamu Terhormat
Arab Saudi punya kendali penuh atas Kiswah. Tapi soal distribusi kain yang sudah tak terpakai, aturannya tidak begitu gamblang.
Ahmed al-Halabi, penulis spesialis haji, menjelaskan pada BBC News Arabic bahwa bagian berhias emas-perak biasanya hanya diberikan kepada kepala negara Muslim atau pejabat tinggi.
"Kain hitam sisa biasanya dipotong-potong dan mungkin diberikan kepada pejabat dengan pangkat lebih rendah,"
tambahnya. Ia juga meragukan keaslian potongan yang disebutkan dalam dokumen DOJ, dan menegaskan bahwa memberi Kiswah pada non-Muslim itu tidak diperbolehkan.
Pendapat serupa datang dari Dr. Simon O'Meara, sejarawan seni Islam di SOAS London. Katanya, Kiswah memang tidak "secara inheren suci", tapi sangat dihormati. "Setelah dilepas, tidak boleh dinodai. Orang tidak boleh menginjaknya," ujarnya.
Jaringan yang Lebih Dalam
Kiswah ini ternyata bukan satu-satunya kiriman dari Saudi untuk Epstein. Sebelumnya, ada juga pengiriman tenda wol tradisional, karpet, hingga perlengkapan rumah tangga lain. Semua ini terjadi setelah Epstein divonis sebagai pelaku kejahatan seksual pada 2008.
Korespondensi dengan nama "Ahmadi" ini berlangsung dari 2016 hingga 2019. Isinya beragam, bahkan menyentuh urusan bisnis dan politik. Epstein terlihat berusaha mempengaruhi kebijakan Saudi, termasuk menentang pencatatan saham publik Aramco, lewat kontak ini.
Nama "Raafat Alsabbagh" juga sering muncul. Dalam email, Epstein menyebutnya sebagai 'penasihat' bagi putra mahkota Saudi. Media resmi Saudi pada 2017 menyebut Alsabbagh sebagai "konsultan di Istana Kerajaan".
Percakapan mereka kadang mengerikan. Dalam satu email, akun bernama Alsabbagh mengirim Epstein tautan berita tentang ratu kecantikan Rusia berusia 17 tahun. Epstein membalas dingin, "Akhirnya Anda mengirimkan sesuatu yang berguna."
Siapa sebenarnya "Aziza al-Ahmadi"? Informasinya terbatas. Dalam satu email 2018, ia meminta nasihat Epstein soal perusahaan "game mobile"-nya. BBC telah mencoba menghubungi Ahmadi untuk dimintai keterangan, tapi belum ada tanggapan. Nama-nama dalam dokumen ini, perlu diingat, bukan bukti kesalahan.
Yang jelas, kasus ini meninggalkan banyak pertanyaan yang mengganjal. Dan dari berbagai penjuru dunia Muslim, kini terdengar seruan agar otoritas Saudi membuka penyelidikan tuntas. Untuk mengungkap bagaimana kain yang menyimpan doa dan air mata jutaan umat, bisa berakhir di tempat yang begitu kelam.
Laporan tambahan oleh Kawoon Khamoosh dari Tim Jurnalisme Reaktif Global.
Editor: Kate Forbes.
Artikel Terkait
Menlu China Wang Yi Peringatkan AS Soal Berkomplot Terkait Taiwan di Forum Munich
Kapolri Lepas 22 Kontainer Bantuan untuk Korban Bencana di Aceh dan Sumatera
Kapolri Lepas 22 Kontainer Bantuan untuk Korban Bencana di Aceh, Sumut, dan Sumbar
Skotlandia Hadapi Maroko di Boston, Bayangi Kekalahan Telak 1998