Di kantornya yang berada di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (9/2/2026) lalu, Agus Harimurti Yudhoyono tampak serius menyambut puluhan kader baru. Ketua Umum Partai Demokrat itu secara resmi menyerahkan 48 KTA, sekaligus menyampaikan pesan penting tentang kondisi politik terkini.
Menurut AHY, jalan yang diambil Demokrat sudah jelas: nasionalis dan religius. Tapi di tengah gempuran era digital sekarang, posisi itu harus dipegang teguh. Partai butuh karakter kuat agar tak mudah goyah oleh banjir informasi yang kerap menyesatkan.
"Kita nggak gampang lagi bedain mana berita bener, mana yang palsu atau hoax," ujarnya di hadapan para kader.
Suasana ruangan hening sejenak.
"Tsunami informasi sekarang membanjiri semua ruang publik. Itu realitas yang kita hadapi," sambung AHY.
Fenomena inilah yang dia sebut sebagai politik pasca-kebenaran atau post-truth politics. Dampaknya? Bisa merusak dari dalam. Politik yang diwarnai kebohongan dan fitnah itu, dalam pandangannya, bukan cuma memecah belah partai, tapi juga menggerogoti persatuan bangsa.
"Reputasi yang dibangun puluhan tahun, bisa hancur dalam sekejap oleh lawan politik. Kejam, ya," jelasnya dengan nada prihatin.
Namun begitu, AHY tak mau para kadernya cuma pasif. Era ini memang tak terhindarkan, tapi respons kitalah yang menentukan. Dia mengajak semua untuk terus berefleksi, mencari solusi agar bangsa ini tak gampang terpecah belah oleh politik fitnah.
Selain itu, ada satu hal lagi yang dia waspadai: politik identitas. Indonesia dengan segala kemajemukannya dari ribuan pulau, ratusan juta penduduk, hingga keragaman suku dan agama adalah sebuah berkah sekaligus kerentanan.
"Perbedaan itu karunia, tapi juga menyimpan celah," katanya.
Politik yang mengeksploitasi perbedaan identitas, tegas AHY, sangat berbahaya dan mematikan. Demokrat, menurutnya, harus terus menolak keras praktik semacam itu.
"Jangan sampai kita lengah. Jangan gunakan identitas untuk memecah belah bangsa sendiri. Dua hal inilah yang harus kita perangi," pungkas AHY menegaskan.
Artikel Terkait
Dua Pemuda di Mesuji Ditangkap atas Dugaan Perkosaan Konten Kreator dengan Modus Perbaikan
BI Proyeksikan Ekonomi Jakarta Tumbuh 4,8-5,6% pada 2026
Ibu Alumni UI Kritis, Putri 6 Tahun Tewas dalam Kecelakaan di Singapura
Megawati: Pemberdayaan Perempuan dalam Pemerintahan Bukan Ancaman bagi Agama