Garda Revolusi sendiri bukan sekadar pasukan militer biasa. Mereka adalah tulang punggung ideologis negara, yang bertugas menjaga "roh revolusi" dari segala ancaman, sekaligus memainkan peran besar di bidang politik dan ekonomi.
Dua Sisi yang Berbeda
Ghalibaf tak ragu menuduh Uni Eropa hanya mengikuti "instruksi dari Presiden AS dan pemimpin rezim Zionis". Dia yakin kebijakan seperti ini justru akan mempercepat kemerosotan pengaruh Eropa di panggung global. Di dalam negeri, klaimnya, dukungan untuk IRGC malah semakin membesar.
Namun begitu, di balik retorika keras itu, ada sinyal lain yang lebih lunak dan menarik untuk dicermati. Dari Washington, mantan Presiden AS Donald Trump yang dulu kerap mengancam serangan militer mengatakan bahwa Teheran kini membuka ruang untuk bicara.
"Mereka berbicara dengan kami. Kita lihat apakah ada yang bisa dilakukan,"
ujar Trump dalam wawancara dengan Fox News.
Nada serupa terdengar dari Teheran. Presiden Iran, Massud Peseschkian, menegaskan negaranya tidak pernah berniat memulai perang. Dalam percakapan telepon dengan Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, dia menyatakan komitmen Iran untuk menghindari konflik terbuka. Bahkan, Ketua Dewan Keamanan Nasional Ali Larijani menyebut ada kemajuan dalam persiapan menuju perundingan dengan AS.
Jadi, di satu sisi ada retaliasi keras terhadap Eropa, di sisi lain ada sinyal dialog dengan Amerika. Dua wajah kebijakan luar negeri Iran ini tampak jelas: konfrontatif sekaligus pragmatis. Di antara keduanya, masa depan hubungan Iran-Barat masih menggantung. Semuanya diwarnai ancaman, simbolisme politik, dan tentu saja, negosiasi diam-diam yang mungkin sedang berjalan di belakang layar.
Editor: Yuniman Farid
Artikel Terkait
Anak Terluka Diduga Akibat Peluru Nyasar, Latihan Militer Korsel Dihentikan Sementara
Lonjakan 247 Persen Pemudik Laut di Pelabuhan Tenau Kupang
Transjakarta Perpanjang Jam Operasi Bus Wisata Selama Libur Lebaran 2026
Kemenag Ingatkan Etika Berbuka Saat Mudik dan Anjurkan Manfaatkan Aplikasi Pusaka