Memilih siapa yang layak menerima Hoegeng Awards itu bukan perkara sederhana. Prosesnya panjang, melibatkan tahapan seleksi yang ketat. Untuk menutup celah calon titipan, Dewan Pakar dari berbagai latar belakang pun dilibatkan.
Untuk edisi 2026 ini, dewan pakarnya tetap sama dengan tahun lalu. Siapa saja? Ada Alissa Qotrunnada Wahid dari Jaringan Gusdurian Indonesia, Gufron Mabruri dari Kompolnas, mantan Plt Pimpinan KPK Mas Achmad Santosa, Wakil Ketua Komnas HAM Putu Elvina, dan Ketua Komisi III DPR Habiburokhman. Kelimanya punya cerita sendiri tentang betapa rumitnya tugas mereka.
Dalam acara puncak tahun lalu, Gufron Mabruri mengaku kewalahan. Menurutnya, setiap usulan yang masuk punya poin dedikasi yang kuat.
Dia menceritakan, seleksi dilakukan dengan sangat hati-hati dan mendalam. Dari sepuluh nama, mereka menyaring hingga tiga besar, yang semuanya sudah melalui uji publik.
Nah, kesulitan serupa diungkapkan Habiburokhman. Anggota Komisi III DPR itu bahkan bilang, memilih penerima award ini jauh lebih pelik ketimbang memilih pejabat negara.
Habiburokhman mengakui ada unsur subjektivitas dalam pertimbangannya. Tapi justru karena itulah, dia mengaku tak bisa menerima titipan. Lobi, kata dia, mustahil dilakukan kepada rekan-rekan dewan pakar lain yang kredibilitasnya sangat teruji.
Di sisi lain, Alissa Qotrunnada Wahid menekankan sisi warisan dari penghargaan ini. Baginya, ‘Polisi Berintegritas’ adalah legacy utama almarhum Jenderal Hoegeng Iman Santoso.
Dia menggambarkan sosok polisi berintegritas sebagai mereka yang memilih jalan sunyi dan terjal. Menolak jalan pintas, menolak sorotan yang menggiurkan, demi menjaga prinsip luhur kepolisian. Mereka, kata Alissa, harus menjadi suluh atau obor bagi rekan-rekannya.
Artikel Terkait
Bahar bin Smith Resmi Jadi Tersangka Kasus Pengeroyokan Banser
Masjid Jadi Titik Terang di Tengah Reruntuhan Longsor Cisarua
Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Jadi Sorotan Gedung Putih
KPK Periksa Penilai Pajak dan Staf Perusahaan Terkait Dugaan Suap di Kantor Pajak Jakarta Utara