Aceh Bangkit: 114 Sekolah Rusak Mulai Dibangun Kembali

- Senin, 02 Februari 2026 | 08:15 WIB
Aceh Bangkit: 114 Sekolah Rusak Mulai Dibangun Kembali

Pemulihan sekolah-sekolah yang hancur diterjang bencana di Aceh akhirnya mendapatkan angin segar. Langkah konkretnya? Penandatanganan perjanjian kerja sama untuk program revitalisasi. Tidak tanggung-tanggun, ada 114 sekolah yang terlibat dalam kesepakatan yang diteken pekan lalu di Banda Aceh itu.

Acara Kamis (29/1) lalu itu disaksikan langsung oleh sejumlah pejabat tinggi, termasuk Dirjen Pendidikan Vokasi, Pendidikan Khusus, dan Layanan Khusus (PKPLK) Kemendikdasmen. Ini bukan sekadar seremoni belaka, melainkan tanda dimulainya rekonstruksi pendidikan di daerah yang porak-poranda.

Dalam sambutannya, Tatang Muttaqin, sang Dirjen, menegaskan komitmen pemerintah. Fokusnya jelas: memulihkan hak belajar anak-anak secepat mungkin, dengan cara yang menyeluruh. Baginya, dokumen yang baru saja ditandatangani itu adalah awal dari kebahagiaan.

"Apa yang telah ditandatangani hari ini adalah dokumen awal kebahagiaan bagi orang-orang sekitar kita, para siswa, orang tua, dan seluruh warga sekolah... untuk mengembalikan kondisi sekolah yang insyaallah lebih nyaman dan tentunya aman," kata Tatang, melalui keterangan tertulis pada Senin (2/2/2026).

Ia berharap dana bisa segera cair dan dieksekusi. Targetnya ambisius tapi penting: di awal tahun ajaran baru nanti, anak-anak sudah bisa belajar dengan tenang di sekolah yang sudah diperbaiki.

Dari total 114 sekolah penerima bantuan, rinciannya adalah 99 SMK, 13 SLB, dan 2 PKBM. Kerusakannya beragam, mulai dari yang ringan sampai berat. Semuanya berada di bawah pembinaan Ditjen PKPLK.

Di sisi lain, harapan pun mengembang. Dahlawi, Kepala Bidang Sarana Prasarana Disdik Aceh, menyebut ini sebagai titik terang. Bencana sempat merusak hampir separuh SMK dan SLB di provinsi tersebut.

"Revitalisasi ini membawa harapan baru bagi pendidikan Aceh. Dengan program ini, kami berharap pendidikan di Aceh segera pulih dan ke depannya akan sama dengan daerah lainya," ujar Dahlawi.

Harapan serupa datang dari lapangan. Faisal, Kepala SMK Ummul Ayman 2 di Pidie Jaya, mengaku seluruh ruang kelas dan praktik di sekolahnya rusak. Selama ini, kegiatan belajar mengajar terpaksa dialihkan ke ruang darurat.

"Dengan revitalisasi ini kami berharap unit kelas baru bisa cepat terbangun dan siswa dapat belajar kembali dalam kondisi yang lebih nyaman," tuturnya.

Rindu akan kenyamanan juga dirasakan oleh para siswa. Seperti Alfrizi Maulana, murid kelas 11 di SMK yang sama. Ia mengeluh karena tak bisa lagi praktik, lantaran kolam ikan dan sistem bioflok milik sekolah hancur diterjang banjir.

"Semoga unit kelas baru bisa segera dibangun dan kami bisa belajar kembali di ruang kelas yang nyaman dengan meja dan kursi," harap Alfrizi.

Sementara itu, bagi Suprananta, Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang, kabar penandatanganan ini adalah sebuah kelegaan. Sekolahnya yang rusak parah kini punya jalan untuk dibangun kembali, meski saat ini 260 muridnya sudah mulai aktif belajar di kelas darurat.

"Dengan PKS ini kami insyaallah bisa membangun kembali sekolah kami," kata Supranata penuh keyakinan.

Jadi, meski prosesnya masih panjang, setidaknya sekarang ada fondasi yang jelas. Langkah pertama untuk mengembalikan senyum dan semangat belajar di Aceh sudah diambil.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler