Belakangan ini, sejumlah kader NasDem ramai-ramai memutuskan untuk hengkang dan bergabung dengan PSI. Fenomena ini tentu mengundang tanya: apa pengaruh pentolan mereka, Ahmad Ali atau yang akrab disapa Mad Ali, yang lebih dulu pindah ke partai kaos merah itu?
Menurut sejumlah saksi, pergerakan ini bukanlah kebetulan. Adi Prayitno, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia (PPI), punya analisis menarik. Ia meyakini bahwa perpindahan massal itu tak lepas dari sosok Mad Ali.
"Itu Ahmad Ali Effect," ujar Adi, Rabu lalu.
"Beberapa kader NasDem yang masuk ke PSI itu kan satu mazhab dengan dia. Sudah rahasia umum. Makanya, wajar kalau setelah Ahmad Ali keluar, yang segaris dengannya ikut hijrah juga," lanjutnya.
Isu terbaru menyebut Rusdi Masse, kader NasDem lainnya, juga bakal menyusul. Adi memperkirakan ini belum berakhir. Setelah Rusdi, bisa saja muncul nama-nama lain yang ikut angkat kaki.
"Potensinya masih ada. Tinggal nunggu, apakah bakal ada 'bedol desa' lanjutan atau nggak. Soalnya dalam politik, pindah atau bertahan itu hitung-hitungannya ya untung rugi politik belaka," katanya menjelaskan.
Di sisi lain, NasDem dituntut untuk cepat bertindak. Partai itu harus segera cari cara biar jagoan-jagoannya nggak pada kabur. Menurut Adi, migrasi semacam ini biasanya terjadi ketika ada kebuntuan di internal.
"Politik itu kan seni bernegosiasi. Kalau ada kebuntuan, ya harus dicari solusinya. Nggak bisa didiamin," pungkas Adi.
Jadi, fenomena hijrahnya kader-kader ini memang terasa seperti efek domino. Dimulai dari satu nama besar, lalu diikuti yang lain. NasDem jelas perlu waspada. Kalau nggak, bisa-bisa mereka kehilangan lebih banyak orang lagi.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi