Ketegangan geopolitik ternyata tak hanya berkobar di Timur Tengah. Di wilayah yang jauh lebih dingin, Greenland, situasinya justru mulai "memanas". Menanggapi hal ini, Prancis memutuskan untuk mengerahkan aset militer terbaiknya. Kapal induk andalan mereka, Charles de Gaulle, telah berlayar meninggalkan pangkalan di Toulon menuju perairan Atlantik.
Menurut Kementerian Pertahanan Prancis, kapal tersebut berangkat pada hari Selasa.
"Kelompok udara angkatan laut telah berlayar untuk mengambil bagian dalam latihan gabungan berskala besar bernama Orion 26," begitu bunyi pernyataan resmi mereka.
Latihan ini rencananya bakal digelar selama beberapa minggu ke depan di zona Atlantik. Wilayah itu dianggap sangat strategis untuk kepentingan pertahanan Eropa. Nantinya, pasukan Prancis akan berlatih bersama sekutu dan mitra regional mereka.
Meski begitu, pernyataan resmi itu tidak menyebutkan lokasi pasti penempatan sang kapal induk. Namun begitu, sejumlah sumber yang mengetahui masalah ini membocorkan tujuannya: Atlantik Utara. Daerah itu belakangan memang jadi pusat ketegangan baru.
Latar belakangnya adalah perselisihan antara Amerika Serikat dan Eropa terkait Greenland. Aliansi Eropa sempat bersatu setelah Presiden AS Donald Trump, awal bulan ini, mengancam akan merebut wilayah otonom di bawah Denmark tersebut. Ancaman itu dinilai melemahkan aliansi transatlantik. Posisi Greenland sendiri sangat strategis, terletak di persimpangan Samudra Arktik dan Atlantik Utara.
Pertemuan tingkat tinggi pun segera dijadwalkan. Presiden Prancis Emmanuel Macron akan bertemu dengan para pemimpin Denmark dan Greenland di Paris pada hari Rabu.
Kapal induk Charles de Gaulle tidak berlayar sendirian. Ia membawa kelompok serang yang lengkap, terdiri dari pesawat-pesawat tempurnya, fregat pertahanan udara, kapal pasokan, dan bahkan kapal selam serang sebagai pengawal. Sebuah armada yang cukup untuk menunjukkan keseriusan.
Namun, sejauh apa mereka akan masuk ke Atlantik Utara? Tidak ada sumber yang berani memastikannya. Yang jelas, perairan itu bukanlah wilayah asing bagi kapal-kapal militer. Kapal selam Rusia dari Armada Utara atau Baltik dikenal rutin melakukan patroli dan melintas di sana. Kehadiran Charles de Gaulle tentu akan menambah dinamika yang sudah ada.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi