Noel Buka Suara: Ada Partai Berhuruf K di Balik Kasus Sertifikasi K3

- Selasa, 27 Januari 2026 | 14:55 WIB
Noel Buka Suara: Ada Partai Berhuruf K di Balik Kasus Sertifikasi K3

Di depan gedung pengadilan yang ramai, sorotan tajam kembali mengarah pada sosok Immanuel Ebenezer, atau yang akrab disapa Noel. Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan ini akan menjalani persidangan kasus pemerasan sertifikasi K3 di Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, hari Senin (26/1/2026) itu. Namun sebelum masuk ruang sidang, ia melemparkan pernyataan yang bikin penasaran. Menurut Noel, ada partai politik yang terlibat dalam kasusnya.

"Partainya ada huruf K-nya. Udah itu dulu clue-nya ya," ucap Noel, dengan senyum samar.

Ia tak berhenti di situ. Selain partai, disebutkannya pula ada organisasi masyarakat yang ikut bermain. Tapi, Noel buru-buru meluruskan. Keterlibatan ormas ini, katanya, cuma sebatas pada aliran dana terkait kasus pemerasan di lingkungan Kemnaker itu.

"Alirannya, bukan terlibatnya. Alirannya," tegasnya, tanpa mau berpanjang lebar.

Soal warna bendera atau nama lengkap partai yang ia tuding, Noel memilih untuk menahan diri. "Pekan depan akan saya paparkan," janjinya. Pagi tadi, memang, ia terlihat cukup banyak bicara tentang pihak-pihak yang diduga terlibat, bahkan diselingi satire tentang dirinya yang disebut-sebut sebagai 'gembong korupsi'.

Kasus yang menjeratnya ini sendiri cukup serius. Immanuel Ebenezer ditangkap KPK sebagai tersangka pemerasan dalam pengurusan sertifikasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3). Modusnya, uang pengurusan yang semestinya Rp 275 ribu digelembungkan jadi Rp 6 juta. Praktik ini diduga sudah berjalan sejak 2019.

Yang mencengangkan, selisih biaya yang harus ditanggung para calon pemegang sertifikat itu disebut KPK mencapai angka fantastis: Rp 81 miliar. Dalam pengembangan kasus, lembaga antirasuah itu sudah menetapkan tiga tersangka baru, sehingga totalnya kini ada 14 orang yang tersangkut.

Lalu, seberapa besar dampak ujaran Noel tentang partai 'berhuruf K' ini terhadap panggung politik kita? Apa sebenarnya yang ingin ia sampaikan? Ini tentu jadi bahan perdebatan yang menarik untuk diikuti.

Sementara itu, dari wilayah Sukoharjo, Solo, datang kabar tentang kejadian mencekam. Sebuah insiden tabrak lari melibatkan mobil pick up dan sejumlah motor terjadi Sabtu (24/1) siang. Ceritanya ternyata lebih rumit dari sekadar kecelakaan biasa. Aksi ini bermula dari percobaan penculikan yang gagal, yang dilakukan seorang pemuda berinisial MDA (23).

Menurut Kasat Reskrim Polres Sukoharjo AKP Zaenudin, pelaku bersama dua orang lainnya berniat menculik korban secara acak untuk tujuan yang keji. Sekitar pukul 11.30 WIB, mereka mencoba menjambret seorang siswi berinisial M (19) yang sedang pulang dari minimarket.

"Korban pulang dari minimarket dengan menggunakan motor. Sesampainya di Jalan Kresno, ada Grandmax yang berhenti dan menghalangi jalan, melintang," jelas Zaenudin dalam konferensi pers di Mapolres Sukoharjo, Senin (26/1/2026).

Bagaimana kronologi lengkapnya dan apa fakta terbaru dari penyelidikan polisi? Simak laporan khusus kami.

Di segmen kesehatan, kita akan mengupas tuntas soal GERD atau Gastroesophageal Reflux Disease. Belakangan, penyakit lambung ini sering dikaitkan dengan serangan jantung, lantaran gejalanya yang mirip: nyeri dada. Memang bikin waswas.

Meski gejalanya serupa, memahami perbedaannya itu penting banget. Tujuannya jelas, biar penanganannya nggak salah langkah dan kita nggak panik berlebihan.

Lantas, benarkah GERD bisa memicu serangan jantung? Bagaimana cara membedakan nyeri dada karena asam lambung naik dengan yang karena jantung? Temukan jawabannya bersama dr. Andi Khomeini Takdir Haruni, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam, dalam diskusi kita nanti.

Ikuti terus analisis mendalam berita-berita terpanas sepanjang hari ini. Siaran langsung kami tayangkan setiap Senin sampai Jumat, mulai pukul 15.30 sampai 18.00 WIB. Jangan lupa, di awal acara ada ulasan pergerakan saham jelang penutupan IHSG. Sampaikan juga pendapat Anda lewat kolom chat yang tersedia.

Detik Sore, nggak cuma hore-hore!

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar