Operasi pasukan Amerika Serikat di Venezuela berakhir dengan situasi yang mencekam. Presiden Nicolas Maduro berhasil ditangkap. Namun, aksi itu meninggalkan jejak kekerasan yang dalam. Sejumlah pengawal presiden tewas dalam serangan tersebut, bersama dengan korban dari kalangan militer dan sipil.
Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez, menyampaikan kecamannya dengan nada keras. Menurut laporan CNN International, ia menggambarkan serangan itu sebagai sebuah pembunuhan berdarah dingin.
"Serangan itu menyebabkan pembunuhan berdarah dingin terhadap sebagian besar tim keamanannya, tentara, dan warga sipil yang tidak bersalah," ujarnya.
Tak tanggung-tanggung, dalam laporan terpisah dari Al Jazeera, Padrino menyebut langkah AS ini sebagai sebuah "penculikan pengecut". Ia menegaskan bahwa beberapa pengawal Maduro dibunuh dengan cara yang kejam.
Hingga kini, pemerintah Venezuela sendiri belum merilis angka resmi korban tewas atau luka-luka. Padrino hanya menegaskan bahwa personel militer dan warga biasa turut menjadi korban dalam operasi penangkapan itu.
Di tengah situasi yang panas, ia berusaha menenangkan publik. "Saya menyerukan kepada rakyat Venezuela untuk melanjutkan semua aktivitas mereka, ekonomi, pekerjaan, dan pendidikan, dalam beberapa hari mendatang," kata Padrino.
Artikel Terkait
Prabowo dan Gibran Hadiri Perayaan Natal Nasional, Dihadiri Separuh Kabinet
Bus Terbakar di Tol Jatibening, LRT Jabodebek Pastikan Operasional Normal
Bus Ziarah Hangus Terbakar di Tol Jakarta-Cikampek, Lalu Lintas Macet Mengular
Dubes RI di Caracas Soroti Kondisi WNI dan Tanda Perbaikan di Venezuela