Operasi AS di Venezuela Berujung Maut: Maduro Ditangkap, Korban Jiwa Berjatuhan

- Senin, 05 Januari 2026 | 05:45 WIB
Operasi AS di Venezuela Berujung Maut: Maduro Ditangkap, Korban Jiwa Berjatuhan

Operasi pasukan Amerika Serikat di Venezuela berakhir dengan situasi yang mencekam. Presiden Nicolas Maduro berhasil ditangkap. Namun, aksi itu meninggalkan jejak kekerasan yang dalam. Sejumlah pengawal presiden tewas dalam serangan tersebut, bersama dengan korban dari kalangan militer dan sipil.

Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino Lopez, menyampaikan kecamannya dengan nada keras. Menurut laporan CNN International, ia menggambarkan serangan itu sebagai sebuah pembunuhan berdarah dingin.

"Serangan itu menyebabkan pembunuhan berdarah dingin terhadap sebagian besar tim keamanannya, tentara, dan warga sipil yang tidak bersalah," ujarnya.

Tak tanggung-tanggung, dalam laporan terpisah dari Al Jazeera, Padrino menyebut langkah AS ini sebagai sebuah "penculikan pengecut". Ia menegaskan bahwa beberapa pengawal Maduro dibunuh dengan cara yang kejam.

Hingga kini, pemerintah Venezuela sendiri belum merilis angka resmi korban tewas atau luka-luka. Padrino hanya menegaskan bahwa personel militer dan warga biasa turut menjadi korban dalam operasi penangkapan itu.

Di tengah situasi yang panas, ia berusaha menenangkan publik. "Saya menyerukan kepada rakyat Venezuela untuk melanjutkan semua aktivitas mereka, ekonomi, pekerjaan, dan pendidikan, dalam beberapa hari mendatang," kata Padrino.

"Negara harus mengikuti jalur konstitusionalnya," sambungnya.

Penangkapan Maduro ini bukanlah peristiwa yang muncul tiba-tiba. Ia adalah puncak dari tekanan berbulan-bulan yang digencarkan pemerintahan Trump. Operasi besar-besaran AS ke berbagai titik di Venezuela itu pun langsung menuai reaksi. Banyak pemimpin dunia yang menyuarakan kecaman.

Kronologinya dimulai pada Sabtu dini hari, tanggal 3 Januari. Serangan pasukan AS mendahului penangkapan. Pemerintah AS sendiri selama ini menganggap Maduro sebagai pemimpin yang tidak sah. Setelah berhasil diamankan, Maduro dan istrinya, Cilia Flores, langsung dibawa ke wilayah Amerika Serikat.

Donald Trump punya sejarah panjang permusuhan dengan Maduro. Ia kerap mendesak sang presiden untuk menyerahkan kekuasaan. Tuduhan utamanya berat: Maduro dituding mendukung kartel narkoba. Trump bahkan menyatakan bahwa Maduro dan jaringan narkobalah yang bertanggung jawab atas ribuan kematian warga AS akibat obat-obatan terlarang.

Konflik ini sebenarnya sudah meluas jauh sebelum penangkapan terjadi. Sejak September 2025, operasi militer AS di perairan sekitar Venezuela sudah berlangsung intens. Lebih dari 100 orang tewas dalam setidaknya 30 serangan terhadap kapal-kapal yang dicurigai menyelundupkan narkoba. Aksi-aksi ofensif di Karibia dan Pasifik ini, menurut sejumlah pengamat hukum, sangat mungkin telah melangkahi batas-batas hukum nasional maupun internasional. Situasinya memang rumit, dan konsekuensinya masih terus beruntun.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar