Suasana haru langsung menyelimuti posko Polda Jateng di RSUP Dr. Kariadi pagi itu. Keluarga korban kecelakaan bus PO Cahaya Trans berdatangan, wajah-wajah mereka dipenuhi kecemasan. Tak lama, tangis pun pecah begitu mereka menerima kabar buruk tentang orang-orang tercinta.
Menurut pantauan di lokasi, pihak kepolisian membuka tiga posko terpisah di rumah sakit tersebut. Masing-masing untuk keperluan posmortem, antemortem, dan satu lagi khusus sebagai ruang tunggu keluarga. Tujuannya jelas: memudahkan proses identifikasi dan memberikan informasi.
Sekitar pukul sepuluh pagi, sekelompok kecil keluarga terlihat mendekati posko. Dua perempuan dan seorang laki-laki tampak berbicara dengan petugas RSUP. Mereka datang dari Boyolali, dengan harapan yang mungkin sudah mulai pudar.
“Lima,” kata salah satu dari mereka, menjawab pertanyaan petugas tentang jumlah kerabat yang naik bus.
Suaranya pendek, tercekat. Ia lalu mengeluarkan foto dari sakunya, menunjukkan wajah ibu, mas, pakdhe, dan dua kerabat lain. Pertanyaannya berikutnya membuat udara terasa semakin berat.
“Ini lima-limanya nggak ada semua?”
Kalimat itu langsung disusul isak tangis yang tak terbendung. Jawaban dari petugas tak kalah menyayat: tiga orang dinyatakan tak selamat. Dua lainnya masih dalam proses identifikasi. Pria itu pun menangis histeris, meresapi kenyataan pahit bahwa kelima orang yang ia cari menjadi korban dalam insiden naas di tol Semarang itu.
Artikel Terkait
Tokoh Oposisi Dinilai Keliru Kaitkan Reformasi Polri Hanya dengan Ganti Kapolri
Jokowi Ucapkan Selamat Hari Australia dalam Pertemuan Bilateral dengan PM Albanese
Gerindra Bagikan Ribuan Sembako dan Bibit Pohon untuk Peringati HUT ke-18
Pandji Pragiwaksono Penuhi Panggilan Klarifikasi Polisi Soal Materi Mens Rea