Program SIGAP Sukses Ubah Pola Asuh, Jangkau 84 Ribu Baduta di 638 Desa

- Kamis, 18 Desember 2025 | 19:50 WIB
Program SIGAP Sukses Ubah Pola Asuh, Jangkau 84 Ribu Baduta di 638 Desa

Bayi-bayi di bawah dua tahun, atau baduta, adalah fokus utama dari Program Keluarga SIGAP. Intinya sederhana: kampanye perubahan perilaku ini ingin mendukung kesehatan anak-anak usia 0-24 bulan lewat pendekatan komunitas dan media. Caranya? Dengan mendorong tiga hal krusial: imunisasi lengkap, cuci tangan pakai sabun, dan tentu saja, pemberian makanan bergizi.

Dimulai sejak 2023, program ini awalnya diuji coba di Kabupaten Bogor dan Banjar. Visinya ambisius: menjangkau satu juta anak di seluruh Indonesia. Nah, sebagai tindak lanjut, di tahun 2025 ini SIGAP melakukan scale-up di tiga wilayah lagi, yaitu Kabupaten Banjar di Kalimantan Selatan, Brebes di Jawa Tengah, dan Sukabumi di Jawa Barat.

Pelaksanaannya beragam. Ada pelatihan untuk kader, kunjungan langsung ke rumah-rumah, sampai kelas khusus untuk ibu-ibu. Yang menarik, program ini juga gencar melibatkan para ayah, plus menjalankan kampanye lewat media dan platform digital.

Ardi Prastowo, Team Leader Program Keluarga SIGAP dari WPP Media Indonesia, mengaku puas dengan perkembangan sejauh ini.

“Kami cukup berbesar hati melihat perubahan perilaku yang terjadi pada para orang tua baduta di wilayah cakupan program. Semoga ini bisa menjadi awal yang baik untuk menciptakan generasi emas yang kita cita-citakan bersama,” ujarnya dalam sebuah keterangan tertulis, Selasa lalu.

Di lapangan, dampaknya mulai terasa. Seperti yang diungkapkan Sriyani, seorang ibu dari Desa Sawojajar, Brebes. Ia merasa senang bisa berinteraksi dengan kader-kader SIGAP.

“Saya diajari cara yang gampang untuk bikin makanan sehat buat anak saya. Ini membuat pencernaan anak saya lebih lancar. Padahal dulu dia buang air besarnya susah dan tidak teratur, jadi sering rewel karena sembelit. Sekarang alhamdulillah anak saya makin sehat dan berenergi terus,” ceritanya.

Bukan hanya ibu yang merasakan manfaatnya. Para kader di posyandu pun mengaku lebih percaya diri. Jariani, seorang kader dari Kabupaten Banjar, bilang bahwa media permainan dari SIGAP membantunya menyampaikan edukasi dengan cara yang jauh lebih menarik.

“Dengan SIGAP, saya belajar cara komunikasi yang efektif untuk mengajak orang tua memberikan ASI eksklusif dan MPASI sehat. Alhamdulillah, bukan hanya ibu, tapi ayah, kakek, dan nenek juga antusias menerima informasi yang kami sampaikan,” ungkapnya.

Perubahan di tingkat desa juga diamati oleh Mista, Kepala Desa Cilangkap di Sukabumi. Ia melihat orang tua jadi lebih rajin ke Posyandu dan mulai menerapkan pola hidup sehat.

“Kami berkomitmen melanjutkan SIGAP melalui dana desa,” tegas Mista.

Komitmen dari berbagai pihak inilah yang digarisbawahi oleh Emi Sri Hartati dari Dinas Kesehatan Brebes. Menurutnya, sebuah program mustahil berhasil jika hanya diupayakan oleh dinas kesehatan saja.

“Diperlukan dukungan, kolaborasi dan sinergi dari para camat, kepala desa serta Puskesmas untuk mempercepat penurunan stunting pada tahun 2026. Kami berharap keberlanjutan program perubahan perilaku yang selama ini telah digagas Program Keluarga SIGAP dapat terus berjalan demi mewujudkan Brebes lebih sehat,” tegas Emi.

Hingga Oktober tahun ini, angka capaiannya cukup signifikan. Program sudah diterapkan di 638 desa yang mencakup 81 puskesmas. Lebih dari 6.200 kader dari ribuan posyandu telah dilatih, dan yang paling penting, program ini berhasil menjangkau lebih dari 84.600 anak baduta.

Namun begitu, tantangan tetap ada. SIGAP menegaskan peran penting ayah, tapi upaya melibatkan mereka sering terbentur masalah praktis dan norma gender yang sudah mengakar. Untuk menjawab ini, digelarlah ‘Minggu Bersama Ayah SIGAP’ akhir September lalu. Acara yang digelar serentak di tiga kabupaten itu berhasil menghadirkan 617 ayah, menjangkau ribuan pendengar radio, dan menarik perhatian lebih dari 6.000 orang di media sosial.

Di era digital, kampanye media SIGAP juga tak main-main. Dari Mei sampai September 2025, kampanye mereka meraih lebih dari 796 juta impresi! Mereka rata-rata menjangkau 9,2 juta orang di YouTube, 17,2 juta di META, dan hampir 3 juta di TikTok. Angka yang fantastis.

Pada akhirnya, semua upaya ini sejalan dengan cita-cita besar Generasi Emas 2045. Kuncinya ada di keberlanjutan. Agar SIGAP tidak sekadar jadi program temporer, kegiatan-kegiatannya harus diintegrasikan ke dalam perencanaan dan penganggaran desa. Dukungan dari kepala desa, camat, dan seluruh perangkat daerah mutlak diperlukan. Hanya dengan begitu, impian untuk anak-anak Indonesia yang sehat, cerdas, dan tangguh bisa benar-benar terwujud.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler