Bayi-bayi di bawah dua tahun, atau baduta, adalah fokus utama dari Program Keluarga SIGAP. Intinya sederhana: kampanye perubahan perilaku ini ingin mendukung kesehatan anak-anak usia 0-24 bulan lewat pendekatan komunitas dan media. Caranya? Dengan mendorong tiga hal krusial: imunisasi lengkap, cuci tangan pakai sabun, dan tentu saja, pemberian makanan bergizi.
Dimulai sejak 2023, program ini awalnya diuji coba di Kabupaten Bogor dan Banjar. Visinya ambisius: menjangkau satu juta anak di seluruh Indonesia. Nah, sebagai tindak lanjut, di tahun 2025 ini SIGAP melakukan scale-up di tiga wilayah lagi, yaitu Kabupaten Banjar di Kalimantan Selatan, Brebes di Jawa Tengah, dan Sukabumi di Jawa Barat.
Pelaksanaannya beragam. Ada pelatihan untuk kader, kunjungan langsung ke rumah-rumah, sampai kelas khusus untuk ibu-ibu. Yang menarik, program ini juga gencar melibatkan para ayah, plus menjalankan kampanye lewat media dan platform digital.
Ardi Prastowo, Team Leader Program Keluarga SIGAP dari WPP Media Indonesia, mengaku puas dengan perkembangan sejauh ini.
Di lapangan, dampaknya mulai terasa. Seperti yang diungkapkan Sriyani, seorang ibu dari Desa Sawojajar, Brebes. Ia merasa senang bisa berinteraksi dengan kader-kader SIGAP.
Bukan hanya ibu yang merasakan manfaatnya. Para kader di posyandu pun mengaku lebih percaya diri. Jariani, seorang kader dari Kabupaten Banjar, bilang bahwa media permainan dari SIGAP membantunya menyampaikan edukasi dengan cara yang jauh lebih menarik.
Artikel Terkait
Warga Lenteng Agung Desak Penutupan Tempat Hiburan Jelang Ramadhan
Si Jago Merah Lumat Gudang Dekorasi dan Empat Ruko Tekstil di Tangsel
Gencatan Senjata Gaza Diterjang Bom, Anggota DPR Soroti Pelanggaran Israel
Pencarian 9 Hari di Bandung Barat: 74 Korban Longsor Ditemukan, 6 Masih Hilang