Pasca Banjir, Sumut Fokuskan Air Bersih dan Perbaikan Jembatan

- Selasa, 16 Desember 2025 | 16:05 WIB
Pasca Banjir, Sumut Fokuskan Air Bersih dan Perbaikan Jembatan

Pemerintah Sumatera Utara kini mengalihkan perhatiannya. Pasca banjir dan longsor yang melanda, fokus utama saat ini adalah menyediakan air bersih bagi warga dan memperbaiki infrastruktur yang rusak parah, terutama jalan dan jembatan. Gubernur Bobby Afif Nasution menegaskan hal itu dalam keterangannya, Selasa (16/12/2025).

Menurut Bobby, kebutuhan di awal bencana terasa seragam: logistik harus segera disalurkan karena akses terputus total. Namun begitu, situasi berubah seiring waktu. Kebutuhan tiap daerah mulai berbeda-beda.

"Pada awalnya kebutuhan di daerah terdampak bencana masih seragam, yaitu percepatan logistik karena akses terputus. Tapi hari ini, berjalannya waktu, kebutuhan daerahnya masing-masing sudah berbeda," kata Bobby.

Ia memberi contoh. Wilayah seperti Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan masih sangat membutuhkan akses jalan yang dibuka. Sementara di tempat lain, masalah utamanya justru air bersih. Meski banjir sudah surut, jaringan airnya masih hancur.

"Ada yang membutuhkan air bersih karena daerahnya sudah tidak terlalu terdampak, tapi akses air bersihnya tidak ada. Ini perlu kita suplai," ujarnya.

Di sisi lain, perbaikan infrastruktur, khususnya jembatan, disebutnya sangat krusial. Bobby khawatir, penundaan perbaikan justru akan memperluas dampak kerusakan.

"Kalau jembatan tidak diperbaiki dalam waktu dekat, airnya masuk terus. Jadi otomatis menjadi daerah terdampak bencana. Yang paling utama membuka akses infrastruktur, jembatan-jembatan secara cepat," tegasnya.

Soal pencarian korban, kabar yang datang masih berat. Hingga kini, 84 orang dilaporkan masih hilang. Kendala terbesarnya adalah alat berat yang sulit menjangkau lokasi terpencil.

"Personel sudah masuk dan pencarian tetap dilakukan. Tapi kalau hanya pakai personel, bisa butuh lima hari. Kalau alat berat masuk, mungkin hanya dua hari. Ini yang kita percepat dengan membuka akses," jelas Bobby.

Kerugian material pun terus membengkak. Angkanya sekarang sudah melampaui Rp 17 triliun. Kerusakannya menyeluruh, mulai dari jembatan yang putus, sawah gagal panen, hingga fasilitas publik seperti sekolah dan rumah sakit yang terendam banjir.

Menghadapi Natal dan Tahun Baru, Bobby mengaku sudah mengantisipasi gejolak harga. Logistik dikirim lebih awal ke daerah-daerah yang jadi jalur utama, seperti Sibolga dan Tapanuli Tengah, untuk mencegah lonjakan harga yang tak terkendali.

"Kami sudah kirimkan logistik untuk menghindari kenaikan harga yang mendadak tinggi. Memang di beberapa daerah sudah terjadi kenaikan, dan itu yang kita intervensi," katanya.

Lalu, bagaimana dengan wacana menetapkan ini sebagai bencana nasional? Bobby menilai dukungan pusat selama ini sudah sangat nyata. Bantuan helikopter, jembatan darurat Bailey, logistik, hingga BBM terus mengalir.

"Kekuatan yang sudah diberikan oleh negara hari ini sangat membantu," ujarnya.

Namun begitu, ia berpandangan penetapan status itu bukan solusi ajaib. Tantangan di lapangan, seperti cuaca buruk dan medan terjal, tetap ada. Jembatan darurat sekalipun bisa hanyut jika hujan deras kembali mengguyur.

"Yang terpenting sekarang aksesnya terbuka supaya alat berat bisa masuk," imbuhnya.

Di kesempatan lain, Bobby juga menyoroti soal penataan kota Medan. Ia mendorong Pemkot untuk menertibkan bangunan liar yang dinilai merusak pemandangan dan berpotensi menimbulkan masalah keamanan.

"Tempat ini kalau malam gelap dan potensi kegiatan yang meresahkan tinggi. Setelah dicek, izinnya tidak ada. Jadi silakan ditertibkan untuk estetika kota," kata Bobby.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler