Stigma itu nyata. Bagi sebagian orang di sekitarnya, memilih Sekolah Rakyat dianggap sebagai langkah mundur. Linda Martini merasakan betul pandangan sebelah mata itu. Sebagai ibu dari seorang siswi di SRMP 5 Solok, Sumatera Barat, ia kerap diremehkan hanya karena pilihan pendidikan untuk anaknya.
"Masa anak berprestasi dimasukkan ke Sekolah Rakyat? Itu sekolah percobaan,"
begitu kira-kira ucapan yang kerap ia dengar. Linda mengakuinya dalam sebuah keterangan tertulis, Selasa lalu. Tapi omongan orang tak lantas menggoyahkan tekadnya. Bagi Linda, yang penting masa depan Tita Martalita, putri ketiganya, terjamin. "Biar kita dihina orang, asalkan anak maju," tegasnya.
Bagi keluarga mereka, pendidikan adalah segalanya. Satu-satunya tiket untuk mengubah nasib. Ayah Tita, Mardaus, bekerja serabutan sebagai buruh tani dengan penghasilan yang bisa Rp 50 ribu sehari, kadang sampai Rp 75 ribu. Kalau lagi tak ada pekerjaan, mereka berdua turun ke sungai. Mengumpulkan batu, mendorong gerobak ke jalan besar, lalu menunggu berbulan-bulan agar tumpukan batu itu laku terjual.
Hidup pas-pasan membuat mereka harus pilah-pilih. Anak pertama gagal kuliah karena terbentur biaya. Anak kedua bisa bersekolah di pondok, tapi untuk menghemat, Linda rela mengantar rantang makanan setiap hari. Lalu ada Tita. Gadis kecil yang sejak usia empat tahun sudah rajin mengaji dan menghafal Al-Qur'an.
Nasib membawanya ke Sekolah Rakyat. Dan bagi Linda, ini adalah jalan yang harus ditempuh agar Tita tak mengulangi siklus hidup mereka yang serba sulit.
"Anak saya jangan berakhir seperti saya. Saya cuma tamat SMP, bapaknya SD. Kalau kami tak mampu, biarlah anak kami yang membawa kami maju,"
ungkap Linda dengan harap.
Kini, setelah lima bulan Tita bersekolah di sana, perubahan mulai terlihat. Di rumah, makan daging sapi atau ayam adalah kemewahan yang cuma bisa dinikmati sebulan sekali. Tapi di sekolah, Tita dapat asupan bergizi tiap hari. Tidurnya cukup, belajarnya teratur, ibadahnya tetap jalan. "Mana bisa kami kasih makan ayam tiap hari? Di sini Tita makan cukup. Istirahat cukup. Belajar cukup. Kami merasa sangat terbantu," ucap Linda, terdengar lega.
Stigma dan hinaan yang dulu begitu keras, perlahan mulai memudar. Linda sudah melihat buktinya sendiri pada sang putri. "Biar sekarang orang menghina. Mudah-mudahan besok orang menengok kami," katanya penuh keyakinan.
Impian pun kini berani diucapkan. Tita bercita-cita jadi dokter. Sebuah mimpi yang dulu tak pernah terbayangkan, apalagi diutarakan, karena kuliah adalah kemewahan yang terlalu mahal.
"Terima kasih kepada Pak Prabowo. Orang miskin seperti kami bisa sekolah, bisa makan, bisa bermimpi. Terima kasih sudah membantu rakyat kecil,"
pungkas Linda. Kata-kata sederhana yang terasa begitu berat maknanya.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi