Suasana di kota Kalogi, Sudan Selatan Kordofan, berubah jadi mimpi buruk Kamis lalu. Serangan drone datang bertubi-tubi. Sasaran pertama adalah sebuah taman kanak-kanak, lalu sebuah rumah sakit. Korban berjatuhan. Menurut laporan terakhir, sedikitnya 79 orang kehilangan nyawa dalam serangan mengerikan itu.
Essam al-Din al-Sayed, kepala unit administratif setempat, menggambarkan kronologinya lewat sambungan telepon satelit. Suaranya terdengar lelah.
"Serangan datang tiga kali. Yang pertama menghantam taman kanak-kanak. Lalu, rumah sakit jadi sasaran berikutnya," ujarnya.
"Gelombang ketiga justru terjadi saat warga berusaha menyelamatkan anak-anak yang terjebak."
Essam dengan tegas menuding Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dan sekutunya, faksi Abdelaziz al-Hilu dari Sudan People's Liberation Movement-North, berada di balik serangan ini. Sampai berita ini diturunkan, RSF belum memberikan tanggapan sama sekali atas permintaan klarifikasi.
Ini cuma satu episode dari konflik yang sudah merenggut terlalu banyak nyawa. Sejak April 2023, tentara pemerintah dan kelompok paramiliter RSF terlibat perang saudara yang kejam. Puluhan ribu tewas. Hampir 12 juta orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, hidup dalam ketidakpastian.
Di sisi lain, mendapatkan gambaran yang jelas di Kordofan itu sulit. Komunikasi sering terputus, akses bagi pihak luar sangat dibatasi, dan situasi keamanan yang terus memburuk membuat verifikasi independen hampir mustahil. Makanya, angka korban tewas di Kalogi pun simpang siur.
Pejabat lokal menyebut sedikitnya 80 orang meninggal, dan hampir setengahnya adalah anak-anak. Kementerian luar negeri yang dekat dengan militer menyebut angka 79. Sementara Uni Afrika, dengan nada prihatin, menyatakan korban jiwa mungkin sudah melampaui 100 orang.
Badan Anak-anak PBB, UNICEF, ikut bersuara. Mereka mengonfirmasi lebih dari sepuluh anak berusia antara lima hingga tujuh tahun tewas dalam serangan itu.
Perwakilan UNICEF untuk Sudan, Sheldon Yett, menyampaikan kecaman keras.
"Membunuh anak-anak di sekolah mereka adalah pelanggaran hak anak yang sangat mengerikan," katanya dalam pernyataan Jumat lalu.
Yett mendesak semua pihak yang bertikai untuk segera menghentikan serangan dan membuka akses bantuan kemanusiaan. Tanpa itu, penderitaan warga sipil, terutama anak-anak, hanya akan terus berlanjut.
Artikel Terkait
200 Ribu Buruh Diprediksi Padati Monas dalam Perayaan May Day 2026
Bareskrim Gagalkan Peredaran 18 Kg Sabu Jaringan Malaysia-Indonesia, Tiga Tersangka Ditangkap
Kebakaran Apartemen di Tanjung Duren, 110 Personel Damkar Dikerahkan
Pemerintah Percepat Penertiban Perlintasan Sebidang Usai Kecelakaan KA di Bekasi