Jenderal Lapangan Tanpa Jejak Intelijen Siap Pimpin Mossad

- Sabtu, 06 Desember 2025 | 06:50 WIB
Jenderal Lapangan Tanpa Jejak Intelijen Siap Pimpin Mossad

Kepemimpinan Mossad, badan intelijen legendaris Israel, akan segera berpindah tangan. Yang menarik, sosok yang ditunjuk untuk mengisi posisi puncak itu sama sekali tak punya jejak di dunia intelijen.

David Barnea, yang memimpin sejak 2019, akan mengakhiri masa jabatannya pada Juni 2026. Aturan memang membatasi jabatan direktur Mossad hanya untuk lima tahun. Nah, kini penggantinya sudah ketahuan.

Bukan dari Kalangan Intel, Tapi Sekretaris Militer Netanyahu

Teka-teki itu akhirnya terjawab. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memilih orang kepercayaannya sendiri: sekretaris militernya.

Mayor Jenderal Roman Gofman, begitulah namanya. Pengumuman resmi dari kantor Netanyahu keluar Kamis lalu. Gofman, yang lahir di Belarusia tahun 1976 dan hijrah ke Israel di usia 14 tahun, punya karier panjang di ketentaraan. Dia bergabung dengan korps lapis baja Israel pada 1995.

“Saya percaya Mayor Jenderal Roman Gofman adalah orang yang tepat untuk memimpin Mossad di tahun-tahun mendatang,” kata Netanyahu dalam pernyataannya.

Menariknya, ketika perang Gaza meletus pasca-serangan 7 Oktober 2023, Gofman justru sedang bertugas sebagai komandan pusat pelatihan infanteri nasional. Dia bahkan terluka parah di hari pertama itu, saat bentrok dengan militan Hamas di kota Sderot, tak jauh dari perbatasan Gaza.

Setelah pulih, jalurnya berbelok. Dia masuk ke lingkaran dalam Netanyahu, bergabung dengan kabinetnya pada April 2024.

Riwayat Intelijen? Kosong. Tapi Pengangkatannya Lancar Saja

Di sinilah poinnya: calon bos baru Mossad ini tak punya pengalaman spesifik di bidang intelijen. Biasanya, pimpinan Mossad diambil dari kader dalam yang sudah puluhan tahun berkecimpung. Gofman bukan itu.

Namun begitu, penunjukkannya ternyata tidak memicu kontroversi politik yang berarti. Kantor Perdana Menteri dengan lantang memuji kontribusi militernya. Mereka menekankan bahwa Gofman memainkan peran penting dalam operasi militer Israel di Gaza. Sepertinya, rekam jejak tempur dan kedekatannya dengan Netanyahu menjadi pertimbangan utama.

Jadi, lembaga intelijen paling rahasia di dunia ini akan dipimpin oleh seorang jenderal lapangan. Sebuah langkah tak biasa yang hanya waktu yang bisa menjawab hasilnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar