Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, menyatakan fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan dapat mengoperasikan tiga jalur pengolahan sampah secara bersamaan apabila pasokan sampah yang masuk mencapai 2.000 ton per hari. Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers Aksi Kolaborasi Peluncuran Perlindungan Sosial bagi Sektor Informal Persampahan Indonesia di Jakarta, Senin (10/8).
“Kalau memang bisa katakanlah sampah di sini setiap harinya bisa 2.000, maka 3 line itu akan kami operasikan secara bersama-sama,” ucap Pramono.
Pramono menjelaskan, pengoperasian RDF Rorotan dilakukan secara bertahap, menyesuaikan jumlah sampah yang masuk. Saat ini, satu jalur rata-rata mengolah 800 ton sampah per hari. Jika pasokan mencapai 1.000 ton, maka satu jalur yang beroperasi. Namun, jika pasokan meningkat hingga 2.000 ton, ketiga jalur akan dijalankan serentak.
“Kalau masih 1.000 pengiriman sampahnya, maka satu line sekarang, line yang satu ini rata-rata 800, kami akan gunakan line yang kedua untuk produksi antara 200 sampai 400,” lanjutnya.
Menurut Pramono, pengelolaan persampahan tidak hanya berfokus pada pengolahan, tetapi juga harus memperhatikan aspek ketenagakerjaan bagi para pekerja di sektor tersebut. Ia menekankan pentingnya pendekatan menyeluruh dari hulu hingga hilir, termasuk kesejahteraan pemulung dan pekerja informal lainnya.
“Sehingga dengan demikian, ini dari hulu sampai hilir hal yang menyangkut ketenagakerjaan yang ada di sektor pemulung persampahan baik di Jakarta dan ini bisa jadi role model di daerah-daerah lain untuk bisa dilakukan,” terang dia.
Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup, Mohammad Jumhur Hidayat, menilai RDF Rorotan sebagai contoh pengolahan sampah yang baik. Ia mengapresiasi fasilitas tersebut yang mampu mengelola sampah secara modern dan tidak menimbulkan kesan kumuh.
“Ini contoh baik bahwa pengolahan sampah ternyata seperti ini, tidak serta-merta harus kumuh dan sebagainya. Saya senang sekali,” kata Jumhur.
Jumhur juga menegaskan bahwa pengelolaan sampah merupakan salah satu indikator tingkat peradaban suatu bangsa. Menurutnya, kemampuan suatu negara dalam mengolah sampah mencerminkan kemajuan peradabannya.
“Penilaian tingkat peradaban sebuah bangsa itu adalah mengolah sampah,” ujar Jumhur.
Artikel Terkait
Transjakarta Bakal Kelola Transportasi Laut ke Kepulauan Seribu, Tarif Dijamin Lebih Murah
Aturan Baru Lingkungan Hidup: Produsen Wajib Kelola Sampah Kemasan, Mi Instan Jadi Sorotan
Pekerja Informal Sektor Persampahan Diskon Iuran JKK dan JKM 50 Persen
Pramono Targetkan Persija Juara Liga 2026/2027 sebagai Kado HUT ke-500 Jakarta