Pada 2026, selisih upah minimum antara Korea Selatan dan Indonesia diproyeksikan mencapai sekitar Rp20 juta per bulan. Upah minimum bulanan di Korea Selatan ditetapkan sebesar 2.156.880 won, atau setara dengan Rp24,9 juta, sementara di Indonesia, upah minimum tertinggi berada di Bekasi dengan Rp5.999.443 dan di Jakarta Rp5.729.876. Perbedaan ini terjadi meskipun kedua negara memproklamasikan kemerdekaan hanya berselisih dua hari pada Agustus 1945.
Perjalanan ekonomi kedua negara mulai berbelok arah sejak era 1970-an. Korea Selatan, yang pada 1950-an merupakan salah satu negara termiskin di dunia akibat Perang Korea, berhasil melakukan lompatan industri besar-besaran. Pemerintah Korea Selatan fokus pada strategi ekspor radikal dan membangun konglomerasi industri raksasa seperti Samsung, Hyundai, dan LG. Mereka beralih cepat dari pertanian ke industri berat, lalu ke teknologi tinggi.
Sementara itu, Indonesia cenderung bertumpu pada komoditas mentah seperti minyak bumi, batu bara, dan sawit. Struktur ekonomi yang masih bergantung pada sektor jasa informal dan komoditas tak terolah membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga global. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi tidak secepat Korea Selatan.
Perbedaan Upah Minimum 2026
Berdasarkan data terbaru, upah minimum per jam di Korea Selatan mencapai 10.320 won, setara dengan Rp119.500. Sementara itu, upah minimum per jam di Jakarta diperkirakan sekitar Rp34.300. Dengan demikian, selisih upah per jam mencapai sekitar Rp85.200.
Untuk upah bulanan, Korea Selatan menetapkan standar 209 jam kerja per bulan, menghasilkan upah minimum bulanan sebesar 2.156.880 won atau sekitar Rp24,9 juta. Di Indonesia, upah minimum bulanan di Jakarta adalah Rp5.729.876, sedangkan di Bekasi Rp5.999.443. Selisih riil antara Korea Selatan dan Indonesia berkisar antara Rp19,1 juta hingga Rp19,2 juta.
Kurs yang digunakan dalam perhitungan ini mengacu pada rata-rata konversi KRW ke IDR tahun 2026, yaitu sekitar Rp11,55 per won.
Faktor di Balik Kesenjangan
Perbedaan mencolok ini tidak terjadi secara instan, melainkan hasil dari pilihan strategi ekonomi selama beberapa dekade terakhir. Salah satu faktor utama adalah kualitas sumber daya manusia dan produktivitas tenaga kerja.
Korea Selatan menempatkan investasi pendidikan di atas segalanya, dengan fokus utama pada bidang STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika). Produktivitas pekerja Korea Selatan sangat tinggi karena ditopang oleh otomatisasi tingkat lanjut di pabrik-pabrik mereka. Sebaliknya, Indonesia menghadapi tantangan kesenjangan kualitas pendidikan antardaerah. Mayoritas angkatan kerja Indonesia masih didominasi oleh lulusan SMA ke bawah dan bekerja di sektor informal, yang menekan rata-rata produktivitas nasional dan standar upah minimum.
Faktor lain adalah PDB per kapita yang terpaut jauh. Korea Selatan berhasil keluar dari jebakan negara pendapatan menengah dan resmi menjadi negara maju dengan PDB per kapita mencapai kisaran $32.000 hingga $35.000. Sementara itu, Indonesia masih berada dalam kategori negara berpendapatan menengah atas dengan PDB per kapita sekitar $5.000. Kemampuan perusahaan untuk membayar upah sangat berkorelasi dengan total nilai tambah yang dihasilkan oleh ekonomi negara tersebut.
Artikel Terkait
RI-Korsel Resmikan Pusat Pengendalian Karhutla di Sumsel
Korea Utara Kembali Luncurkan Proyektil, Jepang dan Korsel Siaga
Warga Korsel Berlindung di Gua Bawah Tanah Saat Gelombang Panas
Delapan Mahasiswa Korsel Ditahan Usai Coba Menyusup ke Pangkalan Militer AS