Iran Tetapkan Enam Syarat Berat untuk Buka Kembali Selat Hormuz

- Minggu, 09 Agustus 2026 | 07:20 WIB
Iran Tetapkan Enam Syarat Berat untuk Buka Kembali Selat Hormuz

Pejabat tinggi keamanan Iran menyatakan Selat Hormuz tidak akan dibuka kembali hingga Amerika Serikat memenuhi serangkaian tuntutan luas, termasuk menarik militer AS dari sekitar Iran, membayar ganti rugi perang, dan mencairkan aset Iran yang dibekukan. Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohammad Bagher Zolghadr, melalui media pemerintah, dan seketika mengguncang jalannya pembicaraan damai yang sebelumnya diproyeksikan segera tercapai antara Iran dan Oman untuk memulihkan stabilitas jalur pasokan energi dunia.

Berdasarkan dokumen yang dirilis oleh badan penyiaran IRIB, Iran mewajibkan AS untuk "memperbaiki perilakunya" melalui enam poin berikut: menarik seluruh kekuatan udara dan angkatan laut AS yang melakukan blokade di sekitar wilayah Iran; membayar kompensasi penuh atas kerusakan fisik dan kerugian akibat konflik bersenjata; mencairkan dan mengembalikan seluruh aset keuangan milik rakyat Iran yang dibekukan atau disita sepihak oleh AS; menghapus seluruh sanksi ekonomi ilegal; menghentikan selamanya operasi militer terhadap Iran serta kelompok sekutunya di Lebanon, Palestina, Yaman, dan Irak; serta menghentikan segala bentuk retorika ancaman maupun penghinaan terhadap nilai-nilai kesucian bangsa Iran.

Pengumuman sepihak ini menjadi batu sandungan besar bagi Gedung Putih di bawah pemerintahan Donald Trump. Sebelumnya, AS menegaskan bahwa pembekuan aset hanya akan dilepas jika Iran bersedia menyerahkan uranium yang diperkaya tinggi. Sementara itu, Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi seperlima pasokan minyak mentah dunia. Akibat konflik yang memanas sejak Februari, volume lalu lintas kapal merosot tajam dari rata-rata 130 kapal per hari menjadi hanya belasan kapal, memicu lonjakan harga BBM di AS hingga menyentuh rata-rata $4,02 per galon.

Eskalasi militer masih berlanjut. Sesaat sebelum pengumuman tuntutan dirilis, sebuah kapal tanker milik perusahaan negara Uni Emirat Arab (ADNOC) dilaporkan terkena serangan rudal Iran di selat tersebut, menegaskan bahwa wilayah ini masih menjadi zona pertempuran aktif.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags