Menjaga Sungai Barito, Menjaga Kehidupan di Sekitarnya

- Minggu, 09 Agustus 2026 | 01:06 WIB
Menjaga Sungai Barito, Menjaga Kehidupan di Sekitarnya

Sungai Barito bukan sekadar bentang alam yang membelah Kalimantan. Bagi masyarakat di sepanjang alirannya, sungai ini adalah sumber kehidupan: jalur transportasi, mata pencaharian, tempat mencari ikan, penyedia air, dan bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-temurun.

Melihat Sungai Barito dari dekat, saya menyadari bahwa sungai tidak pernah sekadar mengalir. Ia menyimpan cerita tentang bagaimana manusia memperlakukan alam. Setiap musim hujan, tinggi muka air menjadi perhatian banyak pihak; ketika debit meningkat, kewaspadaan terhadap banjir pun muncul. Sebaliknya, saat kemarau tiba, penurunan debit air menghadirkan tantangan bagi pelayaran, pertanian, dan potensi kebakaran lahan di sekitarnya.

Kondisi itu mengajarkan satu hal penting: alam selalu memberikan tanda. Persoalannya bukan apakah tanda itu ada, melainkan apakah kita mau memperhatikannya.

Sayangnya, perhatian terhadap sungai sering kali muncul hanya ketika bencana terjadi. Banjir merendam permukiman, tebing sungai erosi, atau aktivitas masyarakat terganggu akibat perubahan kondisi air. Begitu keadaan normal kembali, perhatian itu perlahan memudar. Sungai kembali dianggap biasa.

Padahal, menjaga sungai tidak cukup dilakukan saat musim hujan. Menjaga sungai berarti menjaga daerah resapan air, mengendalikan pembangunan di sempadan sungai, mengurangi pencemaran, serta memastikan tata ruang menghormati fungsi alami sungai.

Memahami Peran Sungai

Sebagai seseorang yang berkecimpung di bidang kebencanaan, saya memahami bahwa sungai bukanlah penyebab utama bencana. Sungai hanya mengikuti hukum alam: air selalu mencari tempat yang lebih rendah. Ketika ruang alaminya dipersempit bangunan, daerah resapan berkurang, atau sedimentasi meningkat, sungai akan mencari jalannya sendiri sering kali melewati permukiman yang dibangun terlalu dekat dengan aliran air.

Di sinilah pentingnya memahami bahwa pengelolaan sungai bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari upaya membangun ketangguhan masyarakat. Informasi tinggi muka air, sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, dan disiplin dalam penataan ruang adalah investasi yang jauh lebih murah dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan setelah bencana terjadi.

Sungai Barito juga mengajarkan tentang keseimbangan. Ia memberi kehidupan ketika dijaga, tetapi dapat menghadirkan risiko ketika keseimbangan alam terganggu. Hubungan manusia dengan sungai seharusnya bukan saling menguasai, melainkan saling menghormati.

Di tengah pesatnya pembangunan, kita sering fokus pada apa yang dapat dibangun di sekitar sungai. Padahal, pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah pembangunan tersebut tetap memberi ruang bagi sungai untuk menjalankan fungsinya?

Pelajaran terbesar dari Sungai Barito bukan hanya tentang air yang mengalir. Sungai mengajarkan bahwa setiap keputusan yang kita ambil hari ini membuka lahan, membangun permukiman, membuang sampah, atau mengabaikan tata ruang akan kembali kepada kita di masa depan.

Karena itu, menjaga Sungai Barito bukan hanya tentang menjaga sebuah sungai. Kita sedang menjaga kehidupan, menjaga lingkungan, dan menjaga keselamatan generasi yang akan datang.

Sungai tidak pernah meminta banyak. Ia hanya membutuhkan ruang untuk tetap mengalir. Dan mungkin, dari situlah kita belajar bahwa hidup yang selaras dengan alam adalah bentuk mitigasi terbaik yang dapat kita lakukan.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags