Aktris sekaligus aktivis Cinta Laura menyoroti kasus meninggalnya pasien pengguna BPJS Kesehatan, Yurizal Tri Chaerawan, yang sebelumnya mengaku harus menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit. Menurutnya, polemik tersebut seharusnya menjadi momentum untuk mengevaluasi sistem pelayanan kesehatan, bukan sekadar memperdebatkan siapa yang benar dan siapa yang salah.
Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, Cinta Laura mempertanyakan masih adanya anggapan bahwa pasien pengguna BPJS Kesehatan layak menerima pelayanan yang berbeda dibandingkan pasien dengan asuransi swasta maupun pasien umum.
"Setiap kali kasus seperti ini viral, pembahasannya langsung berputar di satu pertanyaan: siapa yang salah dan siapa yang benar. Menurut aku, justru itu bukan pertanyaan yang paling penting," tulis Cinta Laura.
Ia menilai persoalan yang lebih mendasar adalah mengapa sebagian masyarakat, termasuk tenaga kesehatan, masih memiliki persepsi bahwa pasien BPJS pantas diperlakukan berbeda saat membutuhkan pelayanan medis.
"Pertanyaan yang sebenarnya lebih penting adalah: kenapa begitu banyak orang Indonesia, termasuk tenaga kesehatan, sering merasa bahwa pasien BPJS layak ditelantarkan hanya karena menggunakan BPJS?" lanjutnya.
Minta Transparansi dan Akuntabilitas
Cinta Laura mengatakan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan bagi peserta BPJS tidak muncul begitu saja. Menurutnya, persepsi tersebut terbentuk dari berbagai pengalaman dan cerita yang selama bertahun-tahun berkembang di tengah masyarakat mengenai dugaan perlakuan berbeda terhadap pasien BPJS.
Ia menegaskan, apabila dugaan kelalaian dalam kasus Yurizal terbukti benar, maka pihak yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban sesuai ketentuan yang berlaku. Di sisi lain, masyarakat juga berhak memperoleh penjelasan secara terbuka agar kepercayaan terhadap sistem pelayanan kesehatan dapat dipulihkan.
"Kalau tuduhan dalam kasus ini terbukti benar, maka mereka yang bertanggung jawab harus dimintai pertanggungjawaban. Apa pun hasil akhirnya, publik tetap berhak mendapatkan transparansi," ujarnya.
Cinta Laura juga mengingatkan bahwa layanan kesehatan merupakan hak seluruh warga negara. Karena itu, empati, penghormatan terhadap martabat pasien, dan pelayanan medis yang cepat tidak boleh dibedakan berdasarkan jenis pembiayaan kesehatan, baik BPJS, asuransi swasta, maupun biaya pribadi.
"Layanan kesehatan bukanlah hak istimewa bagi mereka yang mampu membayar lebih. Martabat, empati, dan pelayanan medis yang tepat waktu seharusnya tidak pernah bergantung pada apakah seseorang membawa kartu BPJS atau asuransi swasta," tegasnya.
Kasus ini bermula ketika Yurizal Tri Chaerawan mengunggah keluhan melalui akun Threads miliknya. Ia mengaku telah menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan ruang perawatan di rumah sakit, namun belum juga dilayani. Unggahan tersebut kemudian menuai berbagai tanggapan, termasuk komentar dari sejumlah tenaga kesehatan yang dinilai warganet tidak menunjukkan empati.
Sekitar sepekan setelah menyampaikan keluhannya di media sosial, Yurizal dikabarkan meninggal dunia. Peristiwa itu memicu gelombang kritik di media sosial, sementara sejumlah warganet menuntut adanya pertanggungjawaban dari pihak-pihak yang sebelumnya dianggap meremehkan keluhan almarhum.
Artikel Terkait
Curhatan Pasien BPJS Viral, DPR Desak Kemenkes Usut Perundungan Nakes
Pasien BPJS Meninggal Usai Curhat di Medsos, Deretan Institusi Bereaksi
Ditopang JKN, Pasien Gagal Ginjal di Tasikmalaya Jalani Cuci Darah Tanpa Khawatir Biaya
IDI Panggil Dokter yang Diduga Hina Pasien BPJS, Akan Periksa Etik