Dokter dan Etika di Media Sosial: Sorotan atas Perilaku yang Memicu Kontroversi

- Rabu, 05 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Dokter dan Etika di Media Sosial: Sorotan atas Perilaku yang Memicu Kontroversi

Perilaku sejumlah dokter di media sosial kembali menjadi sorotan publik. Unggahan bernada pedas dan sindiran yang dianggap tidak pantas memicu perdebatan hangat di kalangan warganet. Beberapa komentar seperti “Daripada banyakin bacot mending banyakin duit halal” dan “minus akhlak” dinilai menyakitkan dan memancing emosi.

Yang lebih mengherankan, komentar-komentar tersebut datang dari seorang dokter yang seharusnya menjunjung tinggi sumpah profesi dan etika kedokteran. Publik pun bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang terpelajar bisa melontarkan kata-kata yang terkesan merendahkan?

Fenomena ini juga memunculkan kembali diskusi tentang perundungan di lingkungan pendidikan kedokteran. Sejumlah warganet mengaitkan perilaku tersebut dengan kebiasaan perundungan yang mungkin terjadi selama masa kuliah. “Kalau terbiasa membully selama kuliah, ya pantes aja ketikannya jahat dan songong meski udah jadi dokter,” tulis seorang netizen. Di dunia nyata, individu yang sering melakukan perundungan cenderung kurang memiliki empati.

Di luar persoalan etika, publik juga menyoroti sistem kesehatan yang memicu sensitivitas dokter terhadap isu BPJS. Keterbatasan fasilitas kesehatan, ekosistem yang belum memadai, dan pengelolaan BPJS yang belum rapi dinilai mudah menimbulkan konflik horizontal antara pasien dan tenaga medis.

Di tengah polemik ini, banyak yang teringat pada dokter dan tenaga kesehatan yang tetap menunjukkan empati dan profesionalisme. Mereka yang melayani pasien dengan hangat dan sabar tentu merasa prihatin dengan citra profesi yang tercoreng oleh ulah segelintir oknum.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags