Perilaku sejumlah dokter di media sosial kembali menjadi sorotan publik. Unggahan bernada pedas dan sindiran yang dianggap tidak pantas memicu perdebatan hangat di kalangan warganet. Beberapa komentar seperti “Daripada banyakin bacot mending banyakin duit halal” dan “minus akhlak” dinilai menyakitkan dan memancing emosi.
Yang lebih mengherankan, komentar-komentar tersebut datang dari seorang dokter yang seharusnya menjunjung tinggi sumpah profesi dan etika kedokteran. Publik pun bertanya-tanya, bagaimana mungkin seorang terpelajar bisa melontarkan kata-kata yang terkesan merendahkan?
Fenomena ini juga memunculkan kembali diskusi tentang perundungan di lingkungan pendidikan kedokteran. Sejumlah warganet mengaitkan perilaku tersebut dengan kebiasaan perundungan yang mungkin terjadi selama masa kuliah. “Kalau terbiasa membully selama kuliah, ya pantes aja ketikannya jahat dan songong meski udah jadi dokter,” tulis seorang netizen. Di dunia nyata, individu yang sering melakukan perundungan cenderung kurang memiliki empati.
Di luar persoalan etika, publik juga menyoroti sistem kesehatan yang memicu sensitivitas dokter terhadap isu BPJS. Keterbatasan fasilitas kesehatan, ekosistem yang belum memadai, dan pengelolaan BPJS yang belum rapi dinilai mudah menimbulkan konflik horizontal antara pasien dan tenaga medis.
Di tengah polemik ini, banyak yang teringat pada dokter dan tenaga kesehatan yang tetap menunjukkan empati dan profesionalisme. Mereka yang melayani pasien dengan hangat dan sabar tentu merasa prihatin dengan citra profesi yang tercoreng oleh ulah segelintir oknum.
Artikel Terkait
RSUD Soekardjo Beri Sanksi Pegawai yang Diduga Hina Pasien BPJS
NasDem Desak Sanksi Tegas untuk Nakes yang Hina Pasien BPJS
Nakes Diduga Hina Pasien BPJS, Komisi IX Minta Sanksi
Dokter RSUD Ruteng Minta Maaf Usai Komentar soal Pasien BPJS Viral