Teheran mengirimkan sinyal ganda: siap berperang, tetapi juga membuka ruang damai. Dalam beberapa hari terakhir, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melakukan percakapan telepon dengan sejumlah mitra di kawasan, termasuk Turki, Arab Saudi, dan pejabat Pakistan yang menjadi mediator. Pesan yang disampaikannya konsisten: Iran siap melanjutkan keterlibatan diplomatik selama pintu negosiasi masih terbuka.
Namun di sisi lain, Araghchi menegaskan bahwa Iran memiliki hak untuk membela diri dan akan menggunakannya. Pernyataan serupa juga mengalir dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), markas besar militer gabungan, hingga angkatan darat. Mereka semua menyuarakan kesiapan menghadapi perang gesekan, bahkan konflik yang meluas melampaui kawasan.
Kondisi ini, menurut pengamat, ditandai tiga hal: ketidakpastian, kerapuhan, dan kompleksitas. Ketidakpastian karena tidak ada yang tahu bagaimana masa depan akan terbentuk. Kerapuhan terlihat dari gencatan senjata yang ada, yang bisa runtuh kapan saja. Sementara kompleksitas muncul dari banyaknya titik perselisihan antara AS, Israel, dan Iran yang belum terselesaikan, baik lewat jalur diplomasi maupun eskalasi berikutnya.
Artikel Terkait
Iran Tuntut Ganti Rugi ke Ukraina atas Serangan di Laut Kaspia
Menlu Iran Tepis Klaim AS: Kami Bukan Venezuela, Sistem Kekuasaan Kami Berbeda
Iran Tuding AS Lakukan Kejahatan Perang, Serang Infrastruktur Vital
Rachmat Gobel: Diplomasi yang Dimulai dari Kata-Kata