Iran menegaskan bahwa negosiasi langsung dengan Amerika Serikat (AS) belum memungkinkan dilakukan selama Washington masih melanggar kesepakatan yang telah ditandatangani. Pernyataan ini disampaikan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi di tengah upaya untuk mencapai kesepakatan pembukaan Selat Hormuz yang semakin alot.
"Selama pelanggaran Amerika terhadap Memorandum of Understanding (MoU) terus berlanjut dan AS tidak memperbaiki pelanggarannya, tidak ada kemungkinan untuk melanjutkan kembali negosiasi," kata Araghchi, seperti dikutip televisi pemerintah Iran, Minggu (9/8).
Padahal, sehari sebelumnya, Araghchi sempat menyebut bahwa kesepakatan untuk membentuk jalur pelayaran sementara di selat strategis tersebut sangat dekat. Namun, tudingan pelanggaran itu muncul setelah Iran kembali mengajukan sejumlah tuntutan kepada Washington sebagai syarat untuk membuka Selat Hormuz sepenuhnya.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa pasokan minyak dan gas dunia kemungkinan belum akan kembali normal dalam waktu dekat. Selat Hormuz sendiri menjadi salah satu titik penting dalam konflik antara AS dan Israel dengan Iran yang pecah pada akhir Februari.
Presiden AS Donald Trump telah berulang kali menuntut agar pelayaran melalui Selat Hormuz kembali terbuka. Ia juga beberapa kali mengancam akan melancarkan serangan baru terhadap Iran jika jalur tersebut tidak dibuka. Namun, hingga kini belum diketahui bagaimana Washington akan merespons jika tercapai kesepakatan.
Di tengah belum tercapainya kesepakatan, situasi di kawasan Timur Tengah kembali memanas. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengklaim telah menyerang kilang minyak Jizan milik Saudi Aramco di Arab Saudi. Sebelumnya, otoritas Saudi melaporkan terjadi kebakaran di fasilitas tersebut.
Wakil Presiden AS JD Vance sehari sebelumnya mengatakan terdapat kemajuan dalam negosiasi. Namun, dia belum dapat memastikan apakah hasil pembicaraan tersebut akan memenuhi kepentingan Washington. "Pertanyaannya adalah apakah Iran akan mampu memberikan hal-hal yang diperlukan agar kami merasa senang, agar kami merasa telah mendapatkan apa yang kami butuhkan dari keterlibatan khusus ini," kata Vance kepada Fox News.
Washington sebelumnya berulang kali menyatakan terlibat dalam pembicaraan terkait pengelolaan Selat Hormuz. Iran membantah adanya negosiasi langsung dengan AS. "Beberapa negara perantara sedang berupaya membangun kembali dasar untuk negosiasi. Saat ini, kami tidak sedang bernegosiasi dengan AS, pertukaran pesan dilakukan melalui perantara," kata Araghchi.
Oman, yang wilayah perairannya mencakup sebagian Selat Hormuz, menyatakan pembicaraan dengan Iran berlangsung dalam "suasana yang positif dan konstruktif". Melalui unggahan di X, pemerintah Oman juga menyerukan penghentian tindakan di selat tersebut agar upaya diplomatik dapat berjalan.
Syarat Iran untuk Buka Selat Hormuz
Selain kompensasi, Iran meminta AS mencabut blokade angkatan laut terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, menarik pasukannya dari sekitar Iran, mencabut sanksi, serta mencairkan aset Iran yang dibekukan. Tuntutan tersebut disampaikan Mohammad Bagher Zolghadr, tokoh garis keras yang memimpin Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran.
Sementara itu, Iran dan salah satu kelompok angkatan laut utama negara-negara Barat telah mengusulkan koridor transit masing-masing untuk memungkinkan kapal melintasi Selat Hormuz. Sebagian besar lalu lintas kapal melalui selat tersebut terhenti sejak perang dimulai. Meski begitu, sejumlah kapal masih mengangkut kargo dalam program pengiriman ulang yang melibatkan bantuan militer AS.
Kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz juga masih menghadapi risiko keamanan. Abu Dhabi National Oil Co. mengatakan sebuah rudalnya menjadi sasaran saat melintas pada Sabtu pagi, menurut kantor berita pemerintah Uni Emirat Arab, WAM. Serangan tersebut tidak menimbulkan korban dan situasi telah dikendalikan. Tiga kapal lain milik produsen minyak terbesar UEA itu juga diserang pada pekan sebelumnya.
Ketidakpastian terkait Selat Hormuz turut memengaruhi pergerakan harga minyak. Harga Brent sempat bergerak fluktuatif sepanjang pekan lalu dan akhirnya ditutup di atas USD 83 per barel. Pelaku pasar mempertimbangkan peluang tercapainya kesepakatan yang dapat membuka jalan bagi kembalinya jutaan barel pasokan minyak dari kawasan Teluk Persia.
Ketegangan juga meningkat di bagian selatan Laut Merah dalam beberapa pekan terakhir. Houthi di Yaman mengumumkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Arab Saudi yang menjadi salah satu jalur ekspor alternatif bagi minyak negara tersebut. Pada Minggu, Houthi mengeklaim menyerang kilang Jizan menggunakan drone sebagai respons terhadap langkah Arab Saudi di wilayah udara Yaman.
Kementerian Energi Saudi sebelumnya mengatakan kebakaran di fasilitas tersebut telah dipadamkan dan tidak menimbulkan korban luka. Namun, pemerintah tidak menjelaskan penyebab kebakaran. Saudi Aramco juga belum memberikan komentar. Insiden tersebut menjadi setidaknya kebakaran kedua dalam sebulan terakhir di fasilitas Aramco. Citra satelit menunjukkan kebakaran pada sebuah tangki di kompleks dengan kapasitas 400.000 barel per hari pada akhir Juli, setelah Houthi mengeklaim melakukan serangan.
Artikel Terkait
Harga Emas Dunia Berpotensi Tembus USD5.000, Logam Mulia Diprediksi Tembus Rp3 Juta
IRGC Tegaskan Selat Hormuz Tetap Tertutup Sampai AS Penuhi Syarat, Termasuk Kompensasi Perang
Perang Iran Mengalirkan Rezeki ke Raksasa Minyak Dunia
Iran Tetap Tutup Selat Hormuz Sampai AS Penuhi Enam Syarat