Pemasangan pagar besi tinggi di sejumlah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan dan Surabaya menuai perhatian warganet di media sosial. Namun, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja menegaskan bahwa langkah tersebut bukan untuk mengantisipasi kerusuhan, melainkan untuk menertibkan arus pengunjung.
Menurut Alphonzus, pagar dipasang agar akses keluar-masuk pengunjung lebih terpusat dan tidak membahayakan lalu lintas di sekitar mal. "Kalau terbuka, pengunjung bisa masuk dan keluar dari mana saja, sehingga membahayakan lalu lintas sekitar," ujarnya di Auditorium Kementerian Perdagangan, Jakarta, Kamis (30/7/2026).
Ia menambahkan bahwa penggunaan pagar sebenarnya bukan hal baru. Banyak pusat perbelanjaan yang sudah menggunakan pagar sejak awal beroperasi. "Yang pasang pagar ini kebetulan saja jadi perhatian. Tapi sebelumnya banyak juga yang sudah berdiri dengan pagar," katanya.
Selain untuk ketertiban, pagar juga berfungsi sebagai perimeter keamanan, terutama bagi mal yang berlokasi dekat dengan titik-titik rawan demonstrasi. "Beberapa pusat perbelanjaan berada di dekat pusat kegiatan demonstrasi. Pagar bisa memberikan batas pengamanan terhadap demonstrasi yang sering berlangsung," jelas Alphonzus.
Meski demikian, ia membantah bahwa pemasangan pagar merupakan antisipasi terhadap kerusuhan. "Kerusuhan tidak. Tujuan utamanya menertibkan akses keluar masuk pengunjung. Kedua, memberikan batas keamanan dari demonstrasi di sekitar. Demonstrasi tidak dilarang selama ada izin, tapi pagar membantu dari sisi perimeter keamanan," pungkasnya.
Artikel Terkait
Kronologi Sopir Alphard Hantam Motor Pakai Batu Terungkap
Dua Kebakaran Melanda Jakarta Selatan, Damkar Kerahkan 19 Unit Mobil
Mantan JAM Pidsus Febrie Adriansyah Ajukan Praperadilan Kedua, Gugat Penyidikan Hingga Penahanan
Sopir Alphard Pukul Motor Ojol di Jaksel, Kasus Berakhir Damai