Kemenkes Soroti Gaya Hidup Sedentari Anak Muda Picu Lonjakan Diabetes

- Senin, 20 Juli 2026 | 23:36 WIB
Kemenkes Soroti Gaya Hidup Sedentari Anak Muda Picu Lonjakan Diabetes

Kementerian Kesehatan menyoroti gaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik di kalangan generasi muda sebagai salah satu faktor pemicu meningkatnya kasus diabetes di Indonesia. Kemajuan teknologi dinilai menjadi penyebab utama perubahan perilaku ini.

“Sebenarnya bukan salah anak muda sekarang, tapi memang dengan kemudahan dan kemajuan teknologi itu berakibat juga terhadap kesehatan,” kata Siti kepada wartawan, Senin (20/7).

Ia menjelaskan, teknologi saat ini membuat orang lebih jarang bergerak karena setiap kebutuhan bisa terpenuhi dengan mudah. “Dengan kemudahan teknologi kita tidak harus berjalan terlalu jauh, kemudian makanan juga bisa langsung tersedia karena dikejar waktu dan pekerjaan,” ucap dia.

Menurutnya, kebiasaan tersebut menciptakan lingkungan obesogenik, yaitu kondisi yang mendorong seseorang menjadi lebih mudah obesitas akibat pola hidup tidak sehat. “Selain obesogenik, ada juga perilaku sedentari, yaitu kebiasaan fokus pada gadget sehingga tidak melakukan aktivitas fisik. Itulah perilaku-perilaku yang harus kita terus ubah dari masyarakat ataupun generasi muda kita,” jelas Siti.

Selain itu, tren makanan viral yang tinggi gula, garam, dan lemak juga memperbesar risiko diabetes apabila dikonsumsi berlebihan. Namun, Siti menegaskan tidak ada makanan yang sepenuhnya dilarang. Masyarakat tetap dapat mengonsumsi makanan favoritnya selama diimbangi dengan aktivitas fisik yang cukup.

“Kalau hari ini minum minuman yang warnanya merah bukan berarti besok tidak boleh lagi. Boleh, tapi artinya nanti sore harus bergerak,” tambah Siti.

Ia mengimbau masyarakat, terutama generasi muda, untuk mulai menerapkan pola hidup sehat sejak dini guna menekan risiko diabetes yang terus meningkat. “Jangan sedentari, batasi konsumsi gula, garam, dan lemak. Jaga supaya obesitas tidak terjadi serta lakukan cek kesehatan secara rutin,” tutur Siti.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags