Kebiasaan menggulir layar ponsel tanpa henti untuk mencari berita negatif dikenal sebagai doomscrolling kini menjadi perhatian para psikolog. Pasalnya, perilaku ini tidak hanya memicu kecemasan dan stres, tetapi juga berdampak buruk pada kesehatan fisik.
Istilah doomscrolling atau doomsurfing merujuk pada kebiasaan terus-menerus mengonsumsi konten negatif di media sosial atau portal berita, meskipun informasi tersebut justru menimbulkan rasa takut, sedih, dan cemas. Fenomena ini semakin marak seiring desain platform digital yang menggunakan fitur infinite scroll, membuat pengguna sulit berhenti.
Secara psikologis, doomscrolling muncul karena otak manusia secara alami mencari kepastian saat menghadapi situasi tidak menentu. Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa semakin sering seseorang membaca berita buruk, semakin tinggi tingkat stres dan kecemasannya. Alih-alih merasa tenang, otak justru terus dalam mode waspada.
Pengguna Media Sosial di Indonesia Rentan
Indonesia termasuk empat negara dengan jumlah pengguna media sosial terbanyak di dunia. Kelompok paling aktif adalah Generasi Z, yang rata-rata menghabiskan satu hingga enam jam per hari di platform digital. Bahkan, sekitar lima persen dari mereka bisa mengakses media sosial hingga 10 jam sehari. Instagram menjadi platform favorit, disusul TikTok, X, dan Facebook. Dengan durasi setinggi itu, paparan konten negatif pun semakin besar.
Dampak pada Kesehatan Mental
Berbagai studi mengaitkan doomscrolling dengan penurunan kesehatan mental. Dampak yang paling umum adalah meningkatnya rasa cemas. Selain itu, pelaku doomscrolling lebih rentan mengalami stres berkepanjangan, pikiran negatif berulang, rasa takut berlebihan, isolasi, sulit berkonsentrasi, penurunan produktivitas, dan kelelahan emosional.
Penelitian Satici dan kolega (2022) menemukan bahwa individu dengan tingkat doomscrolling tinggi cenderung mengalami stres lebih besar dan pola penggunaan media sosial yang bermasalah. Sementara itu, studi lintas budaya oleh Shabahang dkk. (2024) menunjukkan kaitan dengan existential anxiety kecemasan mendalam tentang masa depan dan makna hidup. American Psychological Association juga melaporkan bahwa paparan berita negatif berlebihan dapat memicu news-related stress.
Dampak Fisik yang Tidak Bisa Diabaikan
Efek doomscrolling tidak berhenti pada psikologis. Kebiasaan berlama-lama di depan layar sambil membaca berita negatif dapat menyebabkan gangguan tidur, mata lelah, sakit kepala, tekanan darah meningkat, kelelahan kronis, dan meningkatkan risiko penyakit jantung akibat stres berkepanjangan. Kurangnya istirahat juga memicu stres oksidatif yang memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
Siapa yang Paling Berisiko?
Meski siapa pun bisa mengalami doomscrolling, beberapa kelompok lebih rentan, yaitu mereka yang memiliki tingkat kecemasan tinggi, mengalami fear of missing out (FOMO), pengguna media sosial yang pasif, dan individu yang sulit mengelola emosi saat menghadapi tekanan. Menurut Güme (2024), faktor-faktor ini membuat seseorang mudah terjebak dalam siklus mencari informasi negatif berulang.
Jika rasa cemas akibat berita mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, kualitas tidur, atau pekerjaan, berkonsultasi dengan psikolog dapat menjadi langkah tepat.
Langkah Penanganan Sejak Dini
Mengenali tanda-tanda doomscrolling adalah langkah awal untuk menghentikannya. Mengatur waktu penggunaan media sosial, memilih sumber informasi yang kredibel, dan menjaga keseimbangan aktivitas digital dapat membantu menjaga kesehatan mental dan fisik.
Artikel Terkait
Healing Gen Z: Antara Kebutuhan Istirahat dan Pelarian dari Tanggung Jawab
Fenomena Hubungan Parasosial: Antara Hiburan dan Realitas
Viral di Media Sosial, Lagu Jawa Populer tapi Maknanya Terabaikan
Healing Bukan Sekadar Liburan, tapi Proses Memulihkan Diri