Kekhawatiran tentang kesehatan mental para personel militer Amerika Serikat di atas kapal induk USS Abraham Lincoln semakin mengemuka. Kapal induk canggih itu kini mendekati akhir masa pengerahan yang sangat panjang di kawasan Timur Tengah, dan para pejabat pemerintahan Presiden Donald Trump menghadapi sorotan tajam terkait kondisi di dalam kapal.
USS Abraham Lincoln telah berada di lautan selama lebih dari 240 hari berturut-turut, termasuk lebih dari 200 hari tanpa transit atau singgah di pelabuhan. Padahal, masa pengerahan yang awalnya diperkirakan berakhir pada Mei lalu telah diperpanjang berulang kali. Situasi ini memicu pertanyaan tentang kesejahteraan sekitar 5.000 personel yang bertugas di kapal tersebut.
Kepala Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, mengunjungi USS Abraham Lincoln pada Sabtu (15/8) waktu setempat. Dalam kunjungannya, Cooper menegaskan bahwa kesejahteraan para awak menjadi prioritas utama. Dia mengakui berbagai kesulitan yang timbul akibat pengerahan berkepanjangan dan menggambarkan tugas aktif dalam situasi seperti itu sebagai hal yang "sangat menantang dan berat".
"Saya sudah lama meyakini bahwa kesehatan mental merupakan salah satu aspek kesehatan individu dan memerlukan perhatian kita, sama halnya dengan kesehatan fisik dan kesehatan spiritual," kata Cooper.
USS Abraham Lincoln tiba di Timur Tengah pada Januari lalu. Sejak saat itu, kapal induk tersebut telah mendukung operasi militer AS terhadap Iran, termasuk blokade laut terhadap pelabuhan dan kapal Teheran. Sementara itu, AS telah mengerahkan kapal induk lain, USS George Washington, ke Timur Tengah untuk menggantikan USS Abraham Lincoln yang dikerahkan sepanjang perang melawan Iran berkecamuk beberapa bulan terakhir.
Artikel Terkait
Kebutuhan Emosional di Tengah Perubahan Hidup: Saat Didengar Menjadi Hal yang Berarti
Kesehatan Mental 5.000 Awak Kapal Induk AS Jadi Sorotan Setelah 240 Hari di Laut
Teuku Zacky Ganti Nama Jadi Jordan, Ungkap Titik Terendah Mentalnya
Bentrokan di Kapal Induk AS Abraham Lincoln Tewaskan 7 Tentara