Beberapa hari sebelum wafat, Amir Shakib Arsalan masih menyempatkan diri menerima tamu. Saat Syekh Abdullah Al Masynuq berziarah ke rumahnya di Beirut, Arsalan tiba-tiba memeluknya erat. Tubuh ringkih itu bergetar. Dengan suara berat, ia berbisik, "Jangan lupakan Palestina… jangan lupakan Palestina!"
Permintaan itu bukan sekadar pesan biasa. Arsalan meminta Al Masynuq bersumpah akan menyampaikannya ke seluruh dunia Arab setelah ia tiada. "Innalillah, umur Anda masih panjang," ujar Al Masynuq mencoba menenangkan. "Tidak, kamu harus janji!" desak Arsalan. "Baik, saya janji," jawab Al Masynuq.
Pesan itu diucapkan pada 1946. Hampir delapan dasawarsa berselang, isu Palestina masih menjadi luka yang tak kunjung sembuh di Timur Tengah.
Siapa Amir Shakib Arsalan
Amir Shakib Arsalan lahir 25 Desember 1869 di Choueifat, Lebanon, dari keluarga bangsawan Druze yang berpengaruh di Pegunungan Lebanon. Ia dikenal sebagai penulis, sejarawan, politikus, penyair, dan pemikir besar gerakan Pan-Islamisme. Karena kepiawaiannya merangkai kata, ia dijuluki Amir al-Bayan Pangeran Retorika atau Pangeran Kefasihan.
Pendidikannya multibahasa: Arab, Prancis, dan dasar administrasi negara ia tempuh di berbagai institusi terkemuka, seperti Madrasah al-Sultaniyyah di Beirut. Pemikirannya banyak dipengaruhi Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh, dua reformis Muslim kenamaan.
Sepanjang hidup, Arsalan menulis sekitar 20 buku dan lebih dari 2.000 artikel. Ia juga mengedit jurnal berbahasa Prancis La Nation Arabe untuk mengampanyekan kemerdekaan Arab dari kolonialisme.
Karyanya yang paling fenomenal dan populer di dunia Islam, termasuk Indonesia, adalah buku Limadha Ta'akhkhar al-Muslimun wa Limadha Taqaddam Ghayruhum? (Mengapa Umat Islam Mundur dan Mengapa Umat Lain Maju?). Dalam buku itu, ia mengupas bahwa kemunduran umat Islam bukan karena ajaran agamanya, melainkan karena mereka meninggalkan esensi ajaran, malas menuntut ilmu, dan kehilangan semangat pengorbanan.
Artikel Terkait
MUI Desak Pemerintah Buka Suara soal Penangkapan Aktivis Palestina Abdul Karim Miqdad
Javier Bardem Puji Timnas Spanyol sebagai Simbol Persatuan dan Harapan
Palestina Rayakan Kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2026, Sindir Netanyahu
Kemenangan Spanyol di Piala Dunia 2026 Disambut Sukacita Warga Gaza