Ilham Arief Sirajuddin, atau akrab disapa IAS, kembali menjadi pusat perhatian dalam Musyawarah Daerah XI Partai Golkar Sulawesi Selatan yang digelar Sabtu, 18 Juli 2026, di Makassar. Setelah pesaing utamanya, Munafri Arifuddin alias Appi, batal mendaftar, IAS melenggang sebagai satu-satunya figur yang tersisa dalam perebutan kursi Ketua DPD I Golkar Sulsel.
Bagi publik Sulsel, nama IAS bukanlah nama baru. Karier politiknya dimulai dari bawah sebagai kader Golkar, duduk di DPRD Sulsel, lalu melesat menjadi Wali Kota Makassar dua periode. Namun, karier itu sempat terputus oleh perkara korupsi yang diusut KPK dan membawanya ke penjara. Setelah bebas, IAS perlahan membangun kembali jalur politiknya hingga kini berada di titik penting: memimpin konsolidasi Golkar Sulsel untuk periode 2026-2031.
Lahir di Gowa pada September 1965, IAS lama dikenal dengan sapaan Aco. Ia pertama kali menonjol sebagai kader Golkar yang berhasil masuk DPRD Sulawesi Selatan pada periode 1999-2004. Dari panggung legislatif provinsi itulah namanya melambung ke level yang lebih besar.
Dari DPRD Sulsel ke Balai Kota Makassar
Lompatan terbesar IAS terjadi ketika ia memenangkan Pilkada Makassar dan memimpin kota itu selama dua periode, 2004-2009 dan 2009-2014. Masa inilah yang menjadikannya salah satu figur politik paling dikenal di ibu kota Sulsel. Ia membangun citra sebagai kepala daerah yang agresif, mudah dikenali publik, dan kuat dalam komunikasi politik.
Setelah menjabat wali kota, IAS sempat bergerak di luar Golkar, termasuk berlabuh ke Partai Demokrat dan ikut dalam kontestasi politik di tingkat provinsi. Namun, perjalanannya tidak sepenuhnya mulus. Pada 2015, ia ditahan KPK dalam perkara dugaan korupsi kerja sama PDAM Makassar. Setahun kemudian, pengadilan menjatuhkan vonis empat tahun penjara, dan Mahkamah Agung mempertahankan hukuman tersebut. IAS bebas pada 15 Juli 2019 setelah menjalani masa hukumannya.
Fase itu menjadi titik patah terbesar dalam karier politiknya. Dari seorang mantan wali kota dua periode dengan pengaruh luas, ia harus keluar dari panggung kekuasaan formal. Namun, justru setelah masa itu, ia mulai memperlihatkan pola yang kini menjadi ciri perjalanan politiknya: kembali masuk gelanggang, membangun jaringan ulang, dan mencoba merebut panggung yang dulu pernah ia kuasai.
Keluar dari Golkar, Kembali Lagi, Lalu Bangun Jalur Musda
Setelah bebas, IAS masih berada di lingkar Partai Demokrat dan ikut dalam perebutan kepemimpinan Demokrat Sulsel pada akhir 2021. Namun, fase itu tidak bertahan lama. Pada 2022, ia memilih hengkang dari Demokrat dan kembali bergabung ke Partai Golkar, partai yang sejak awal membesarkan namanya.
Kembalinya IAS ke Golkar bukan sekadar perpindahan simbolik. Sejak 2025, ia sudah menyatakan siap maju pada Musda Golkar Sulsel dan mulai membangun komunikasi dengan DPP maupun DPD II kabupaten/kota. Jalur itu makin terbuka setelah Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menyerahkan hak diskresi kepada IAS pada 24 Juni 2026. Dalam penyerahan diskresi itu, Bahlil meminta IAS agar mengembalikan kekuatan Golkar di Sulsel. Salah satu pesan yang mengemuka adalah dorongan untuk "kembalikan maruah dan kebesaran Partai Golkar" di Sulawesi Selatan. IAS menerima mandat itu dan menyatakan komitmennya untuk menambah kursi Golkar pada pemilu mendatang.
Sesudah diskresi turun, peta dukungan berubah cepat. IAS mengklaim meraih dukungan 22 DPD II Golkar kabupaten/kota, lalu menyapu dukungan dari unsur hasta karya dan organisasi sayap. Total itu membuatnya menguasai mayoritas suara pemilik hak pilih menjelang Musda. Di saat yang sama, Appi yang semula digadang menjadi pesaing utama justru batal mengembalikan formulir pencalonan.
Dengan situasi itu, IAS praktis masuk ke Musda 18 Juli 2026 sebagai figur terkuat, bahkan dalam posisi calon tunggal. "Insya Allah kami serahkan semuanya kepada forum Musda," ujarnya kepada detikSulsel.
Kini Berdiri di Ujung Comeback Politik
Posisi IAS hari ini membuat jejak hidupnya terlihat seperti lingkaran yang berputar penuh. Ia memulai jalur politik dari Golkar, sempat keluar, naik tinggi sebagai wali kota, jatuh karena kasus hukum, lalu kembali lagi ke partai yang dulu menjadi rumah politiknya. Bagi Golkar Sulsel, IAS kini bukan hanya nama senior, tetapi juga simbol dari upaya mengumpulkan kembali faksi-faksi lama partai menjelang agenda politik berikutnya. Musda 18 Juli 2026 bukan sekadar soal siapa duduk di kursi ketua, melainkan juga tentang bagaimana seorang figur lama mencoba menutup luka politiknya dengan comeback paling menentukan dalam kariernya.
Artikel Terkait
IAS Kenakan Atribut Suku di Pengembalian Formulir, Tegaskan Kesetaraan di Golkar Sulsel
IAS Klaim Kantongi Dukungan 18 DPD II Jelang Musda Golkar Sulsel